Teknologi

Bukan Pekerja Kantoran, Ini Profesi yang Paling Dibutuhkan di Era AI Menurut CEO Nvidia

CEO Nvidia Jensen Huang menyebut profesi paling dicari di era AI adalah insinyur bidang fisik dan teknisi, bukan pekerja kantoran. Pekerja terampil seperti tukang listrik dan tukang ledeng akan mengalami lonjakan permintaan karena pembangunan pusat data AI yang masif.

JAKARTA · Sunday, 12 October 2025 10:00 WITA · Dibaca: 53
Bukan Pekerja Kantoran, Ini Profesi yang Paling Dibutuhkan di Era AI Menurut CEO Nvidia

JAKARTA, JClarity – Era kecerdasan buatan (AI) memicu kekhawatiran meluas mengenai hilangnya pekerjaan, terutama di sektor 'kerah putih' atau pekerja kantoran. Namun, CEO Nvidia Jensen Huang baru-baru ini menyajikan pandangan yang mengejutkan dan kontras mengenai profesi yang paling dicari di masa depan.

Dalam sebuah wawancara dengan Channel 4 News di Inggris, Huang—yang memimpin perusahaan produsen chip AI paling dominan di dunia—dengan tegas menyebut bahwa profesi yang akan mengalami lonjakan permintaan bukanlah programmer atau insinyur perangkat lunak tradisional, melainkan pekerja di bidang keterampilan praktis.

Huang secara spesifik menyoroti pekerjaan seperti tukang listrik, tukang ledeng, dan tukang kayu sebagai segmen yang paling dibutuhkan seiring dengan percepatan revolusi AI. “Jika Anda seorang teknisi listrik, tukang ledeng, tukang kayu—kami akan membutuhkan ratusan ribu dari mereka untuk membangun semua pabrik ini,” ujar Huang.

Pernyataan ini didasarkan pada lonjakan pembangunan pusat data (data center) atau yang ia sebut 'pabrik AI' yang masif dan berkelanjutan. Infrastruktur fisik yang kompleks ini, yang merupakan fondasi operasional AI, membutuhkan tenaga manusia yang terampil untuk instalasi listrik, sistem pendingin, jaringan pipa, dan struktur bangunan—pekerjaan yang tidak dapat dilakukan oleh kecerdasan buatan.

Huang juga menambahkan bahwa segmen 'kerajinan terampil' ini, yang sering diabaikan dalam diskusi mengenai karier bergengsi, diprediksi akan mengalami lonjakan besar dan dapat menawarkan gaji yang sangat kompetitif. Ia bahkan menyebut banyak posisi ini dapat diisi tanpa gelar sarjana dan berpotensi menghasilkan gaji di atas $100.000 (sekitar Rp1,6 miliar) per tahun, melampaui beberapa karier kerah putih tradisional.

Pandangan CEO Nvidia ini memberikan sinyal penting bagi dunia pendidikan, khususnya di Indonesia, bahwa fokus karier perlu bergeser dari pekerjaan klerikal dan digital yang rentan diotomatisasi, menuju penguasaan keterampilan praktis dan pendidikan vokasi yang berhubungan langsung dengan pembangunan infrastruktur fisik. Menurut Huang, di tengah revolusi digital AI, justru fondasi yang bersifat fisik dan keahlian manusia di dunia nyata yang akan menjadi pilar utama perekonomian masa depan.

Login IG