Bos ChatGPT Investasi di Startup Rekayasa Genetika Bayi: Perkawinan AI dan Bioteknologi
CEO OpenAI Sam Altman investasi di startup Preventive, yang meneliti rekayasa genetika embrio untuk cegah penyakit. Keputusan ini picu kontroversi etika dan hukum.
JAKARTA, JClarity – Garis batas antara teknologi raksasa (Big Tech) dan ilmu pengetahuan kehidupan (Life Science) semakin kabur. Sam Altman, CEO OpenAI—perusahaan di balik kecerdasan buatan (AI) populer ChatGPT—bersama suaminya, Oliver Mulherin, dilaporkan telah menanamkan investasi signifikan pada sebuah startup bioteknologi kontroversial yang berfokus pada rekayasa genetika embrio manusia, atau yang secara luas dikenal sebagai 'bayi hasil rekayasa genetik' (gene-edited babies).
Perusahaan rintisan (startup) tersebut bernama Preventive, yang berbasis di San Francisco. Misi utama Preventive adalah mengembangkan teknologi penyuntingan gen, yang kemungkinan besar menggunakan teknologi CRISPR, untuk menghilangkan kondisi genetik herediter parah pada embrio sebelum kelahiran. Dilansir dari berbagai laporan media, Preventive telah mengumpulkan dana sekitar US$30 juta, dengan Sam Altman dan CEO Coinbase Brian Armstrong menjadi salah satu investor utama.
Investasi ini sontak memicu perdebatan etika yang mendalam di komunitas ilmiah dan masyarakat global. Penyuntingan genetik pada embrio untuk tujuan reproduksi saat ini dilarang atau sangat dibatasi di Amerika Serikat, Inggris, dan lebih dari 70 negara di dunia. Para kritikus berpendapat bahwa terlepas dari niat mulia untuk mencegah penyakit, teknologi ini membuka jalan yang berbahaya menuju 'bayi perancang' (designer babies), di mana orang tua dapat memilih sifat-sifat tertentu, seperti kecerdasan atau penampilan, yang berpotensi memperlebar jurang ketidaksetaraan sosial.
Keterlibatan Altman, sebagai salah satu tokoh terdepan dalam revolusi AI, dalam proyek bioteknologi yang sensitif secara etika ini menyoroti tren 'perkawinan' yang semakin erat antara AI dan Bioteknologi. Para ahli melihat potensi algoritma AI yang dioptimalkan untuk seleksi genetik yang menentukan embrio mana yang 'unggul' atau 'layak' untuk dikembangkan, menempatkan para pemimpin teknologi pada posisi untuk tidak hanya mengarahkan masa depan AI tetapi juga evolusi manusia.
Menghadapi larangan di AS, Preventive dilaporkan sedang menjajaki yurisdiksi lain dengan regulasi yang lebih longgar, seperti Uni Emirat Arab (UEA), untuk melanjutkan tahap awal penelitiannya. Langkah ini menimbulkan kekhawatiran tentang 'arbitrase regulasi', di mana perusahaan memindahkan penelitian kontroversial ke negara dengan pengawasan yang lebih lemah. Bioetikus dan ilmuwan menyerukan moratorium global, mendesak debat publik yang luas dan kerangka tata kelola internasional yang jelas sebelum anak hasil rekayasa genetik pertama lahir.