Asing Net Buy Jumbo Rp 3,79 Triliun, Cek Saham yang Banyak Diburu Saat IHSG Rebound.
Investor asing mencatatkan net buy jumbo mendekati Rp 4 T saat IHSG rebound ke level ATH pekan lalu. Saham perbankan big caps seperti BBCA dan BBRI menjadi incaran.
JAKARTA, JClarity – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menutup pekan perdagangan dengan gemilang, didukung oleh aksi beli masif (*net buy*) oleh investor asing. Meskipun nilai beli bersih yang tercatat dalam satu periode mencapai Rp 3,79 triliun, data resmi BEI menunjukkan bahwa total arus modal asing (*foreign inflow*) selama periode rebound kuat pada 20–24 Oktober 2025 di seluruh pasar bahkan melampaui angka tersebut, mencapai Rp 4,23 triliun. Aksi *net buy jumbo* ini menjadi pendorong utama kenaikan signifikan IHSG, yang akhirnya berhasil mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa (*All-Time High*/ATH).
Performa IHSG sendiri melesat kencang, ditutup menguat 4,5% pada akhir periode tersebut, mencapai level 8.271,72. Sentimen positif yang datang dari prospek pelonggaran kebijakan moneter global dan fundamental kuat emiten domestik menjadi pendorong utama. Kuatnya arus dana asing ini menunjukkan adanya rotasi portofolio dan kepercayaan yang tinggi terhadap prospek pasar modal Indonesia di tengah kondisi global yang masih dinamis.
Data transaksi menunjukkan bahwa investor asing secara spesifik memburu saham-saham dari sektor perbankan dan saham *blue chip* lainnya yang memiliki kapitalisasi pasar besar. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi yang paling dominan diborong oleh asing pada pekan lalu, dengan nilai beli bersih mencapai Rp 2,7 triliun. Aksi beli BBCA ini didorong oleh laporan kinerja kuartal III yang positif dan sinyal pembagian dividen interim.
Selain BBCA, saham perbankan *jumbo* lainnya juga menjadi incaran utama. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) tercatat berada dalam daftar beli bersih terbesar asing. Melengkapi daftar saham *blue chip* yang diburu, PT Astra International Tbk (ASII) dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) turut masuk dalam lima saham teratas yang menjadi target *foreign inflow* masif ini.
Analis Tim JClarity menilai, tekanan di saham-saham tertentu justru beriringan dengan rotasi investor asing ke saham berfundamental kuat. Peluang pemangkasan suku bunga acuan AS oleh The Fed di akhir Oktober 2025 dengan probabilitas tinggi turut membuka ruang bagi sentimen positif, yang memperkuat kinerja sektor perbankan dan properti karena potensi penurunan biaya kredit. Oleh karena itu, investor disarankan untuk memantau saham-saham sensitif suku bunga seperti BBCA, BBRI, BMRI, BBNI, serta emiten properti, yang diprediksi memiliki peluang besar untuk melesat di tengah kebijakan moneter yang lebih longgar.