Asing Jual Jumbo Saham Rp3,1 T, Bank *Big Caps* Jadi Pemberat Utama IHSG
IHSG anjlok 1,32% akibat tekanan jual masif investor asing Rp3,1 T. Saham BBCA, BBRI, BMRI, BBNI menjadi pemberat utama indeks di tengah sentimen global.
Jakarta, JClarity – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah signifikan pada penutupan perdagangan Jumat, 3 Oktober 2025. Indeks tertekan aksi jual masif investor asing (net sell) yang mencapai angka fantastis Rp3,1 triliun, mencatatkan salah satu hari terberat bagi pasar modal domestik dalam beberapa waktu terakhir. Saham-saham perbankan berkapitalisasi besar (*big caps*) menjadi sasaran utama aksi jual tersebut, menyeret indeks ke zona merah.
Pada akhir sesi, IHSG tercatat anjlok 95,89 poin atau -1,32% ke level 7.150,21. Total nilai transaksi mencapai Rp15,5 triliun, menunjukkan tingginya volume perdagangan yang didominasi oleh tekanan jual. Besarnya nilai net sell asing sebesar Rp3,11 triliun pada satu hari perdagangan ini mengindikasikan adanya pergeseran sentimen investor global terhadap aset-aset berisiko di pasar negara berkembang.
Sektor finansial menjadi kontributor pelemahan terbesar. Data perdagangan menunjukkan bahwa saham-saham *big caps* perbankan mendominasi daftar jual bersih asing. Empat bank utama, yakni PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), tercatat sebagai saham dengan nilai jual bersih terbesar.
Head of Research JClarity Sekuritas, Raphardika, menjelaskan bahwa besarnya kapitalisasi pasar saham-saham bank tersebut membuat pergerakannya memiliki bobot yang sangat signifikan terhadap IHSG. “Tekanan jual yang terpusat di sektor perbankan, khususnya pada saham-saham yang menjadi andalan portofolio asing, secara langsung menyeret IHSG jatuh lebih dalam. Ini bukan semata-mata karena isu domestik, namun lebih pada penyesuaian portofolio global,” ujarnya.
Menurut Raphardika, aksi jual asing yang masif ini tidak terlepas dari sentimen eksternal. Kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury yang terus berlanjut membuat aset-aset berbasis Dolar AS menjadi lebih menarik, memicu *capital outflow* dari pasar-pasar berisiko seperti Indonesia. Selain itu, sentimen *profit taking* juga turut mewarnai pergerakan, mengingat saham-saham bank *big caps* telah mencatatkan kenaikan substansial dalam beberapa bulan terakhir.
Dengan tekanan jual yang sedemikian besar, volatilitas diperkirakan akan berlanjut dalam jangka pendek. Investor disarankan untuk mencermati data ekonomi global dan perkembangan *yield* obligasi AS. Meskipun demikian, fundamental ekonomi Indonesia yang tetap solid dan potensi pertumbuhan laba emiten *big caps* ke depan diperkirakan akan menjadi penopang yang menahan IHSG dari pelemahan yang lebih dalam dalam jangka menengah.