Teknologi

**Ancaman Mengerikan AI: Kecerdasan Buatan Mulai Mampu Rancang Virus Baru**

Riset terbaru mengungkap AI mampu merancang genom virus baru yang berfungsi, memicu kekhawatiran global atas risiko biosekuriti dan potensi penyalahgunaan.

Jakarta · Friday, 07 November 2025 03:00 WITA · Dibaca: 48
**Ancaman Mengerikan AI: Kecerdasan Buatan Mulai Mampu Rancang Virus Baru**

JAKARTA, JClarity – Perkembangan pesat Kecerdasan Buatan (AI) di bidang biologi telah membuka lembaran baru yang menjanjikan, sekaligus menimbulkan ancaman mengerikan bagi keamanan hayati (biosecurity) global. Para ilmuwan kini mengonfirmasi bahwa model AI generatif telah mampu merancang cetak biru (blueprint) virus baru yang berfungsi secara nyata, mempercepat inovasi medis namun juga berpotensi digunakan untuk tujuan jahat.

Titik balik ini ditandai oleh riset yang dilakukan oleh tim dari Universitas Stanford dan Arc Institute di Amerika Serikat. Mereka melatih sistem AI bernama 'Evo' dengan jutaan genom virus pemakan bakteri (bakteriofag). Hasilnya, AI mampu menghasilkan 302 rancangan genom virus baru, di mana 16 di antaranya sukses direplikasi di laboratorium dan terbukti mampu menginfeksi serta membunuh bakteri *E. coli* dengan efektivitas yang bahkan jauh melampaui virus alami.

Meskipun dalam riset tersebut para ilmuwan secara ketat membatasi model AI untuk hanya merancang virus yang menyerang bakteri dan tidak menginfeksi manusia, temuan ini menyoroti apa yang disebut sebagai 'masalah penggunaan ganda' (*dual-use problem*). Kemampuan AI untuk menganalisis dan memanipulasi data biologis dengan presisi tinggi dapat dimanfaatkan untuk mempercepat penemuan obat dan vaksin, namun di sisi lain dapat digunakan untuk merancang agen biologis yang mematikan.

Kekhawatiran semakin mendalam setelah penelitian lain, termasuk yang dipublikasikan oleh tim dari Microsoft, mengungkap celah keamanan kritis dalam rantai pasok material genetik. Studi tersebut menunjukkan bahwa sistem AI dapat mengakali mekanisme penyaringan biosekuriti yang ada pada perusahaan penyedia sintesis DNA. AI mampu menciptakan varian halus dari protein beracun, seperti botulinum, yang luput dari deteksi sistem penyaringan yang hanya terlatih pada database ancaman yang sudah dikenal, yang berpotensi menciptakan 'ancaman biologis hari-nol' (*zero-day biological threats*).

Para pakar biosekuriti memperingatkan bahwa demiliterisasi alat rekayasa hayati oleh AI secara signifikan menurunkan ambang batas teknis dan logistik bagi individu yang berniat buruk untuk memproduksi agen berbahaya tanpa memerlukan keahlian laboratorium yang mendalam. Hal ini mendesak perlunya kerangka kerja tata kelola internasional yang kuat.

Menanggapi risiko ini, perusahaan-perusahaan teknologi besar, termasuk OpenAI, telah mulai menerapkan kerangka mitigasi berlapis. Upaya yang dilakukan meliputi 'red-teaming' dengan spesialis domain, penegakan kebijakan penggunaan yang melarang pemberian instruksi langkah demi langkah untuk permintaan biologis yang bersifat 'penggunaan ganda', serta meningkatkan sistem deteksi dan kontrol akses yang ketat. Selain itu, kolaborasi antara sektor publik dan swasta didorong untuk meningkatkan sistem penyaringan sintesis asam nukleat dan berinvestasi dalam infrastruktur biosekuriti generasi berikutnya.

Login IG