Saham

Aksi Jual Asing Tekan Pasar Modal: IHSG Rontok 4,14% ke 7.915.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok tajam 4,14% ke level 7.915. Aksi jual bersih investor asing menjadi pemicu utama koreksi mendalam di tengah sentimen global dan domestik yang memburuk.

Jakarta · Sunday, 19 October 2025 19:00 WITA · Dibaca: 31
Aksi Jual Asing Tekan Pasar Modal: IHSG Rontok 4,14% ke 7.915.

JAKARTA, JClarity – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami koreksi paling tajam dalam sejarah perdagangan harian tahun ini, rontok hingga 4,14% dan ditutup pada level 7.915. Tekanan jual masif ini didominasi oleh investor asing, yang mencatatkan aksi jual bersih (net sell) signifikan, memicu kepanikan di seluruh sektor pasar modal domestik.

Berdasarkan data perdagangan, pelemahan dramatis ini terjadi di tengah arus modal keluar (capital outflow) investor asing yang sudah berlangsung sejak awal tahun. Sentimen global dan domestik yang semakin memburuk menjadi pemicu utama. Kekhawatiran global meliputi sinyal kehati-hatian kebijakan moneter The Federal Reserve AS dan meningkatnya tensi dagang serta geopolitik. Secara domestik, volatilitas nilai tukar Rupiah dan isu ketidakpastian fiskal turut memperkeruh sentimen investor institusi asing.

Aksi jual bersih asing terfokus pada saham-saham dengan kapitalisasi pasar besar (big cap) atau blue chip, terutama di sektor perbankan dan energi, seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Penurunan harga saham-saham fundamental ini secara otomatis menyeret IHSG jatuh mendalam. Praktisi pasar modal menilai, penurunan tajam ini dapat berdampak signifikan terhadap perekonomian Indonesia karena IHSG merupakan indikator penting kepercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi nasional.

Analis pasar modal dari [Nama Sekuritas Fiktif] menyatakan koreksi ini, meskipun dipicu faktor eksternal, telah menembus beberapa level dukungan psikologis. Level 7.915 kini menjadi titik kritis yang harus dipertahankan. Jika tekanan berlanjut, IHSG berpotensi menguji area dukungan teknikal berikutnya di kisaran 7.940 hingga 7.800. Investor domestik disarankan untuk tidak panik dan mewaspadai potensi koreksi lanjutan, namun koreksi ini juga bisa dimanfaatkan sebagai peluang untuk akumulasi saham-saham berkualitas secara bertahap (buy on weakness).

Direktur Utama BEI, [Nama Fiktif], menanggapi pelemahan ini dengan menyatakan bahwa fundamental pasar modal Indonesia tetap baik dan likuiditas masih terjaga. Namun, otoritas pasar akan terus memantau dinamika keamanan dan politik dalam negeri serta perkembangan global yang berpotensi memperburuk sentimen. Pasar selanjutnya akan mencermati perkembangan data inflasi dan keputusan suku bunga bank sentral untuk mencari katalis positif di tengah maraknya aksi ambil untung (profit taking) pasca kenaikan signifikan sebelumnya.

Login IG