Saham

Aksi Jual Asing Tekan Pasar Modal, IHSG Rontok 4% ke 7.915.

IHSG anjlok 4% ke 7.915 pada penutupan perdagangan hari ini, dipicu oleh aksi jual masif (net sell) investor asing hingga Rp 2,7 triliun. Cek analisis selengkapnya.

Jakarta · Sunday, 19 October 2025 23:00 WITA · Dibaca: 36
Aksi Jual Asing Tekan Pasar Modal, IHSG Rontok 4% ke 7.915.

Jakarta, JClarity – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menutup perdagangan hari ini dengan koreksi sangat tajam. IHSG terperosok 4,00%, ambles ke level 7.915,00, level terendah dalam beberapa bulan terakhir. Pelemahan masif ini didorong oleh aksi jual besar-besaran (net sell) investor asing yang mencapai angka signifikan, memicu kekhawatiran di pasar modal domestik.

Tekanan jual sudah terasa sejak sesi pembukaan, di mana IHSG langsung berada di zona merah dan gagal mempertahankan level psikologis 8.000 sepanjang hari. Menurut data penutupan, total nilai transaksi di BEI tercatat melonjak hingga Rp 18,5 triliun, mencerminkan likuidasi besar-besaran. Dari jumlah tersebut, dana investor asing yang keluar (net foreign sell) dilaporkan menembus Rp 2,7 triliun, sebuah indikasi kuat sentimen *risk-off* yang dominan.

Analis Pasar Modal dari Alpha Investama, Maya Sari, menjelaskan bahwa pelemahan ini tidak terlepas dari kombinasi faktor global dan domestik. “Kenaikan *yield* obligasi AS yang terus berlanjut dan memicu penguatan Dolar AS secara global telah meningkatkan risiko di pasar negara berkembang seperti Indonesia. Investor asing memilih untuk mengamankan keuntungan dan beralih ke aset *safe haven*,” ujar Maya Sari.

Dampak dari aksi jual asing ini terasa merata di seluruh sektor, namun sektor Keuangan (Perbankan) dan Energi menjadi yang paling terpukul, dengan penurunan masing-masing lebih dari 4,5%. Saham-saham berkapitalisasi besar (*Big Caps*) yang biasanya menjadi jangkar indeks, seperti BBCA, BBRI, dan TLKM, menjadi sasaran utama likuidasi, menyeret IHSG ke zona merah terdalam.

Meskipun terjadi koreksi signifikan, pelaku pasar domestik diharapkan tetap tenang. Maya Sari menambahkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap solid, dan penurunan ini dapat dilihat sebagai koreksi sehat. “Level 7.900 kini menjadi *support* kuat berikutnya. Investor domestik disarankan untuk memanfaatkan momentum koreksi ini dengan melakukan akumulasi beli secara selektif pada saham-saham dengan fundamental yang kuat dan valuasi menarik untuk jangka panjang,” tutupnya.

Login IG