Aksi Borong Asing Dorong IHSG Tembus Level 7.300 dan Cetak Rekor Baru: BBCA Jadi Primadona Utama.
IHSG tembus rekor baru 8.125,20 didorong net buy asing Rp 5,55 triliun. Saham BBCA jadi primadona utama dengan net buy tertinggi, meski GOTO alami net sell.
JAKARTA, JClarity – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali mencatatkan kinerja impresif, didorong oleh derasnya aliran dana investor asing. Momentum kenaikan ini berhasil membawa IHSG melampaui level psikologis 7.300 dan bahkan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa atau All Time High (ATH) baru.
Pada perdagangan Selasa, 23 September 2025, IHSG ditutup di zona hijau, melesat 1,06% menuju rekor baru di posisi 8.125,20. Pergerakan positif ini tidak terlepas dari aksi beli bersih (net buy) masif yang dilakukan oleh investor asing. Total nilai net buy asing di seluruh pasar mencapai Rp 5,55 triliun, dengan net buy di pasar reguler tercatat Rp 451 miliar. Aksi borong ini mengindikasikan adanya kepercayaan kuat investor global terhadap prospek pasar modal domestik, terutama setelah IHSG sebelumnya berhasil melewati level resistensi penting seperti 7.300.
Di tengah euforia pasar, saham-saham perbankan berkapitalisasi besar (big caps) kembali menjadi target utama. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) muncul sebagai primadona utama yang paling diincar oleh investor asing. Tercatat, saham BBCA diborong asing dengan nilai net buy tertinggi mencapai Rp 258,18 miliar. Manuver pembelian ini turut mendorong penguatan saham BBCA sebesar 1,94%, ditutup di posisi Rp 7.875 per saham. Selain BBCA, saham-saham dari sektor komoditas dan energi juga terlihat menjadi sasaran beli, sejalan dengan optimisme pasar.
Sementara itu, saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menjadi salah satu saham yang menarik perhatian, namun dengan dinamika yang berbeda. Meski menjadi salah satu saham yang paling aktif diperdagangkan, GOTO justru mencatatkan aksi jual bersih (net sell) oleh investor asing senilai Rp 41,2 miliar pada hari yang sama. Kondisi ini menunjukkan adanya profit taking atau pergeseran alokasi dana asing di sektor teknologi, meskipun minat investor domestik dan volume transaksi terhadap saham GOTO tetap tinggi.
Analis pasar memprediksi bahwa sentimen positif dari kinerja korporasi yang solid dan stabilitas makroekonomi domestik akan terus menopang pergerakan IHSG. Namun, investor tetap disarankan untuk mencermati fluktuasi global dan kebijakan moneter bank sentral, mengingat aksi jual asing di beberapa saham berkapitalisasi besar lain, seperti PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) pada periode sebelumnya, menunjukkan adanya kehati-hatian di tengah reli. Dengan dominasi net buy pada saham big caps, khususnya BBCA, fundamental pasar domestik dinilai masih kuat untuk menjaga momentum kenaikan IHSG ke level yang lebih tinggi.