Teknologi

AI untuk Meluruskan Hoaks, Dosen dan Mahasiswa Diingatkan Jadi Garda Edukasi Digital

Dosen dan mahasiswa diingatkan untuk menjadi garda edukasi digital menggunakan AI secara bijak guna meluruskan hoaks, terutama ancaman konten deepfake.

TEMANGGUNG · Monday, 13 October 2025 03:00 WITA · Dibaca: 61
AI untuk Meluruskan Hoaks, Dosen dan Mahasiswa Diingatkan Jadi Garda Edukasi Digital

TEMANGGUNG, JClarity – Arus deras informasi di ruang digital, yang semakin hari kerap disusupi kabar bohong dan disinformasi, menuntut peran aktif civitas akademika dalam menjaga ekosistem informasi yang sehat. Dalam sebuah kegiatan di Temanggung, Jawa Tengah, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) H. Wibowo Prasetyo secara tegas mengingatkan para dosen dan mahasiswa untuk menjadi 'Garda Edukasi Digital' dengan memanfaatkan Kecerdasan Artifisial (AI) sebagai alat pelurus hoaks.

Pesan ini disampaikan Wibowo dalam Pelatihan Penulisan Karya Tulis Ilmiah Berbantuan Kecerdasan Artifisial yang diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Kemenag RI bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Walisongo Semarang di Hotel Indraloka, Temanggung. Menurutnya, AI tidak hanya berfungsi untuk kepentingan akademik dan riset, tetapi harus diarahkan untuk mengedukasi masyarakat dan meluruskan informasi palsu yang beredar.

“Dosen dan mahasiswa di sini memiliki modal intelektual yang besar untuk menggunakan AI secara bijak. Penggunaannya harus memperkuat literasi digital masyarakat, bukan sebaliknya menjadi alat penyebar kebingungan dan konflik,” ujar Wibowo. Ia menyoroti kasus-kasus kerusuhan sosial yang sempat dipicu oleh konten manipulatif berbasis deepfake, yakni video rekaan yang dibuat dengan teknologi AI, yang membuat publik sulit membedakan fakta dan kepalsuan. “Peran Bapak dan Ibu semua dalam meluruskan informasi ini akan berdampak luar biasa bagi ketenangan masyarakat,” tambahnya.

Ancaman hoaks kian nyata seiring meningkatnya kemampuan AI generatif yang mampu memproduksi konten palsu, termasuk video deepfake, yang dinilai menjadi ancaman terbesar bagi integritas informasi. Data dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mencatat, pada tahun 2024 terdapat 1.923 temuan isu hoaks, sejalan dengan rendahnya tingkat literasi digital di Indonesia yang hanya mencapai 62%, tertinggal dari rata-rata negara ASEAN lainnya.

Sementara itu, Wakil Rektor I Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung, Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., yang turut menjadi narasumber, menekankan pentingnya etika penggunaan AI. Dalam konteks penelitian, Dr. Ibda menegaskan bahwa AI harus diposisikan sebagai “mitra intelektual” atau “asisten berpikir”, bukan pengganti peneliti. Hal ini bertujuan agar karya ilmiah yang dihasilkan tetap beretika, orisinal, dan memiliki nilai akademik tinggi. Kesadaran ini menjadi kunci penting agar AI dapat menjadi alat yang mencerahkan dan berperan aktif dalam perlawanan terhadap gelombang disinformasi yang mengancam ketenangan publik.

Login IG