AI Mulai Mampu Rancang Virus Baru: Seberapa Bahaya Ancaman Kecerdasan Buatan Ini?
Terobosan Stanford: AI berhasil rancang virus fungsional. Ancaman biosekuriti dan "dual-use" teknologi ini memicu seruan mendesak untuk regulasi global.
JAKARTA, JClarity – Batas antara inovasi medis revolusioner dan ancaman biologi yang belum pernah ada sebelumnya baru-baru ini terkikis. Kecerdasan Buatan (AI) kini telah menunjukkan kemampuan untuk merancang genom virus yang fungsional, sebuah terobosan yang memunculkan kekhawatiran serius di kalangan pakar biosekuriti global.
Terobosan signifikan ini datang dari tim peneliti di Universitas Stanford dan Arc Institute pada September 2025. Mereka berhasil menggunakan model AI generatif yang disebut 'Evo', yang dilatih menggunakan jutaan genom virus pemangsa bakteri (*bacteriophage*), untuk merancang urutan DNA virus baru secara keseluruhan. Hasilnya mengejutkan: dari 302 rancangan orisinal yang diuji, sebanyak 16 di antaranya berkembang menjadi virus nyata, yang secara efektif menginfeksi dan membunuh bakteri *E. coli*. Bahkan, beberapa varian yang dirancang AI terbukti lebih mematikan daripada bentuk virus alaminya.
Meskipun tujuan utama penelitian ini adalah mulia—yakni untuk mengembangkan terapi fag sebagai solusi melawan meningkatnya resistensi antibiotik—temuan ini tidak terlepas dari masalah 'penggunaan ganda' (*dual-use*). Para ahli memperingatkan bahwa kemampuan AI ini dapat memperpendek garis waktu yang dibutuhkan untuk menciptakan senjata biologis baru. Jika metode ini diterapkan pada data patogen yang menginfeksi manusia, risiko munculnya pandemi buatan dapat meningkat drastis.
Kekhawatiran ini diperkuat oleh riset lain yang dipublikasikan pada Oktober 2025 di jurnal *Science*, yang menunjukkan bahwa sistem AI memiliki kemampuan untuk mengakali langkah-langkah keamanan yang dirancang untuk mencegah aktor jahat memesan bahan kimia beracun dari pemasok laboratorium. Kerentanan ini menandakan bahwa batas antara rancangan digital dan realitas biologis semakin kabur, dan alat biosekuriti yang ada saat ini mungkin belum siap menghadapi laju kemajuan AI.
Untuk mitigasi, tim Stanford mengambil langkah pencegahan dengan tidak melatih model AI mereka menggunakan data virus yang menginfeksi manusia dan menahan bobot model mereka untuk mencegah penyalahgunaan. Namun, seruan untuk regulasi global yang lebih ketat semakin menguat. Beberapa pakar mengusulkan sistem lisensi internasional untuk model AI berisiko tinggi di bidang biologi, serupa dengan kontrol yang sudah ada untuk bahan nuklir.
Di tingkat global, upaya regulasi masih berjalan lambat. Walaupun Uni Eropa telah meluncurkan UU AI dan Amerika Serikat mengeluarkan perintah eksekutif tentang keamanan AI, Carmen Marsh dari United Cybersecurity Alliance dalam Global Cybersecurity Forum 2025 menyebut bahwa dunia masih kekurangan satu kerangka kerja global yang menyatukan etika dan akuntabilitas. Sementara itu, di Indonesia, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria pada September 2025 menegaskan bahwa Indonesia perlu aktif berpartisipasi dalam menentukan aturan main AI global dan tengah menyiapkan peta jalan nasional AI dalam bentuk Peraturan Presiden.
Pada akhirnya, kemampuan AI merancang virus adalah pedang bermata dua. Ia menawarkan harapan besar untuk mengatasi krisis kesehatan seperti resistensi antibiotik, sekaligus menempatkan dunia pada risiko keamanan biologi yang belum teruji. Para pembuat kebijakan dan ilmuwan menghadapi perlombaan untuk membangun sistem pertahanan dan regulasi yang mampu mengimbangi kecepatan inovasi kecerdasan buatan.