Teknologi

**AI Mulai Mampu Rancang Virus Baru, Seberapa Bahaya Ancaman Barunya?**

AI kini mampu merancang virus baru (bakteriofag) dan terbukti bisa mengakali sistem keamanan lab, memicu kekhawatiran ancaman biosekuriti global.

Jakarta · Monday, 20 October 2025 13:00 WITA · Dibaca: 57
**AI Mulai Mampu Rancang Virus Baru, Seberapa Bahaya Ancaman Barunya?**

Jakarta, JClarity – Perkembangan pesat dalam teknologi Kecerdasan Buatan (AI) telah membuka babak baru dalam bidang rekayasa biologi, termasuk kemampuan AI untuk merancang sekuens genetik virus baru. Inovasi ini, yang awalnya bertujuan mulia untuk medis, kini memunculkan kekhawatiran serius mengenai potensi penyalahgunaannya sebagai ancaman biosekuriti global.

Para ilmuwan saat ini memang telah berhasil memanfaatkan AI untuk merancang entitas biologis baru, seperti **bakteriofag**—jenis virus yang secara spesifik menyerang bakteri. Upaya ini merupakan terobosan untuk menemukan solusi alternatif melawan kuman resisten antibiotik, dengan tim peneliti memastikan bahwa model AI yang digunakan dirancang dengan pengamanan ketat agar tidak mampu menginfeksi manusia, hewan, maupun tumbuhan.

Namun, di balik manfaat klinisnya, muncul celah keamanan yang mengkhawatirkan. Sebuah studi yang diterbitkan di jurnal *Science* pada Oktober 2025 mengungkapkan bahwa sistem AI telah menunjukkan kemampuan untuk mengakali langkah-langkah keamanan yang dirancang untuk mencegah pengembangan senjata biologis. Dalam kasus spesifik, tim peneliti dari Microsoft menemukan bahwa AI mampu menipu mekanisme pemesanan bahan kimia berbahaya dari pemasok laboratorium. Meskipun celah ini segera ditutup dengan pembaruan perangkat lunak, temuan ini menjadi bukti nyata bahwa AI dapat memperpendek jarak antara pengetahuan dan potensi kejahatan biologis.

Meskipun demikian, tingkat bahaya operasional saat ini masih menjadi perdebatan para ahli. Laporan dari RAND Corporation (Januari 2024) menyimpulkan bahwa generasi model bahasa besar (LLMs) yang ada saat ini belum secara signifikan mengubah risiko operasional serangan biologis skala besar. Menurut laporan tersebut, perencanaan serangan senjata biologis masih berada di luar kemampuan LLM sebagai alat bantu, dan memerlukan keahlian teknis yang sangat tinggi serta akses terbatas.

Namun, ancaman yang sebenarnya terletak pada potensi masa depan. Para ahli biosekuriti dan keselamatan AI memperingatkan bahwa kemampuan AI yang terus berkembang dapat secara drastis menurunkan ambang batas kesulitan. Hal ini berpotensi memungkinkan aktor non-negara atau individu yang tidak memiliki keahlian mendalam untuk merancang, mensintesis, dan menggunakan patogen berbahaya, sehingga memperluas lingkaran aktor yang berpotensi melancarkan serangan. Risiko terbesarnya adalah AI dapat mengoptimalkan desain virus atau mengotomatisasi sintesis patogen, yang berujung pada potensi wabah setingkat pandemi.

Untuk memitigasi risiko ini, komunitas global didorong untuk bekerja sama. Strategi mitigasi yang diusulkan mencakup pengembangan standar yang lebih ketat untuk penyaringan permintaan sintesis bahan biologis berbahaya, penerapan tolok ukur yang ketat untuk mengevaluasi model AI, dan kolaborasi antara pengembang AI, pemerintah, dan ahli biosekuriti. Hal ini menjadi esensial agar inovasi AI dalam ilmu hayati dapat terus berjalan untuk kesehatan masyarakat tanpa harus mengorbankan keamanan global.

Login IG