AI Mulai Mampu Rancang Virus Baru. Seberapa Bahaya?
AI kini mampu merancang cetak biru virus baru secara otonom, memicu kekhawatiran serius akan risiko penyalahgunaan untuk senjata biologis sintetis. [145 karakter]
JAKARTA, JClarity – Batasan antara kecerdasan buatan (AI) dan biologi sintetis semakin kabur, memicu kekhawatiran global yang mendalam mengenai keamanan hayati. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa model AI kini tidak hanya mampu memprediksi, tetapi juga secara otonom merancang cetak biru organisme hidup baru, termasuk virus.
Kemampuan ini, meskipun awalnya ditujukan untuk mempercepat penemuan obat dan vaksin, membuka pintu bagi risiko penyalahgunaan yang belum pernah terjadi sebelumnya: perancangan senjata biologis sintetis (SBW) yang sangat mematikan. Studi yang dilakukan oleh ilmuwan di Stanford University, yang dipublikasikan pada basis data bioRxiv pada September 2025, menyoroti terobosan ini. Dalam penelitian tersebut, sebuah AI yang disebut Evo—dilatih menggunakan 2 juta genom virus—berhasil mendesain 302 cetak biru orisinal untuk bakteriofag (virus pemusnah bakteri), di mana 16 di antaranya terbukti menjadi virus nyata yang efektif menginfeksi bakteri berbahaya E. coli.
Para ahli biosekuriti memperingatkan bahwa teknologi yang sama dapat dimanfaatkan oleh aktor non-negara atau individu dengan motif tersembunyi untuk menciptakan patogen yang jauh lebih berbahaya. Kekhawatiran ini bukan tanpa dasar. Dalam simulasi sebelumnya, sebuah algoritma AI yang dirancang untuk penemuan obat, ketika diarahkan untuk tujuan yang merugikan, berhasil menghasilkan 40.000 molekul berpotensi beracun dalam waktu kurang dari enam jam. Beberapa molekul yang dihasilkan bahkan diklaim lebih mematikan daripada agen saraf VX.
Bahaya utama dari virus atau patogen baru yang dirancang oleh AI terletak pada potensi modifikasi genetik yang disengaja. Menurut analisis Kementerian Pertahanan RI pada pertengahan 2024, SBW dapat direkayasa agar memiliki resistensi tinggi terhadap antibiotik dan vaksin yang ada, bahkan mengubah profil imunologisnya sehingga tidak dikenali oleh sistem kekebalan tubuh manusia. Hal ini berarti pandemi yang berasal dari patogen buatan AI dapat menimbulkan dampak yang jauh lebih parah daripada wabah alami seperti COVID-19.
Menanggapi ancaman yang terus meningkat, perusahaan teknologi terkemuka mulai menerapkan langkah-langkah pengamanan yang ketat. OpenAI, misalnya, telah mengakui bahwa model AI terbarunya berpotensi disalahgunakan untuk menghasilkan senjata biologis dan telah melengkapi sistemnya dengan fitur keamanan, termasuk penolakan permintaan berbahaya, sistem deteksi aktivitas mencurigakan, dan pembatasan akses akun. Namun, para ilmuwan dan regulator menyerukan perlunya pengawasan terstruktur dari pemerintah dan evaluasi keamanan wajib (mandatory screening) pada model AI yang terlibat dalam biologi sintetis untuk memitigasi risiko. Kolaborasi antara ahli pembelajaran mesin, penyakit, dan komunitas multidisiplin sangat penting untuk memastikan bahwa kemajuan AI dalam biologi tetap berada dalam batas-batas yang etis dan aman.