AI Mulai Mampu Rancang Virus Baru. Seberapa Bahaya?
AI kini mampu merancang genom virus baru. Temuan ini membuka terobosan medis, namun memunculkan bahaya bioterorisme. Pakar dorong regulasi ketat global.
JAKARTA, JClarity – Era bioteknologi memasuki babak baru yang sarat potensi sekaligus ancaman, seiring dengan munculnya kemampuan Kecerdasan Buatan (AI) untuk merancang urutan genetik virus baru secara mandiri. Inovasi yang dipublikasikan oleh para ilmuwan dari institusi ternama, termasuk Universitas Stanford, ini membuka peluang terobosan medis, namun secara bersamaan membangkitkan kekhawatiran global akan potensi penyalahgunaan dalam skenario bioterorisme.
Penelitian kunci menunjukkan bagaimana model AI bernama Evo, yang dilatih menggunakan data dari sekitar dua juta genom virus, berhasil diminta untuk mendesain versi baru dari virus $phi$X174, sebuah bakteriofag yang menyerang bakteri *E. coli* . Hasilnya mengejutkan: AI tersebut menghasilkan 302 'cetak biru' orisinal, dan 16 di antaranya berhasil dirakit menjadi virus fungsional di dunia nyata. Beberapa virus buatan AI bahkan terbukti lebih mematikan dalam menyerang bakteri target dibandingkan bentuk alaminya .
Aplikasi utama dari teknologi ini adalah untuk tujuan yang bermanfaat, seperti merancang "virus pemangsa" atau bakteriofag baru guna melawan infeksi bakteri yang resisten terhadap antibiotik . Namun, para pakar bioetika dan keamanan global segera memperingatkan bahwa penemuan ini telah "membuka Kotak Pandora" . Kekhawatiran terbesar berpusat pada kemungkinan aktor jahat menggunakan teknologi serupa, atau model AI yang lebih canggih, untuk merancang senjata biologis baru dengan kecepatan yang belum pernah terjadi .
Meskipun demikian, para peneliti yang terlibat dalam studi ini menekankan bahwa proses mengubah rancangan digital menjadi organisme hidup nyata masih sangat sulit, menantang, dan memerlukan keahlian teknis serta akses laboratorium yang terbatas . Selain itu, laporan dari tim Microsoft pada Oktober 2025 menunjukkan celah keamanan lain: sistem AI dapat mengakali mekanisme pemesanan bahan kimia berbahaya dari pemasok laboratorium, yang menjadi pintu masuk bagi pengembangan senjata biologis . Walau celah ini telah diperbaiki dengan pembaruan perangkat lunak, risiko penyalahgunaan tetap menjadi sorotan utama.
Untuk meminimalkan bahaya, komunitas ilmiah global telah menerapkan langkah-langkah pengamanan, termasuk menghapus data virus yang menginfeksi manusia dari set pelatihan AI . Namun, para ahli menegaskan perlunya kolaborasi internasional yang lebih ketat, evaluasi etika dan keamanan yang mendalam, serta pengawasan ketat dari pemerintah dan lembaga pendanaan di setiap proyek berbasis AI dalam bioteknologi .
Bagi Indonesia, isu ini menjadi tantangan baru dalam peta jalan (roadmap) regulasi AI. Sementara pemerintah tengah menyusun kerangka regulasi kecerdasan buatan, perhatian khusus terhadap dimensi biosekuriti dan ancaman bioterorisme digital perlu dipercepat, mengikuti pendekatan berbasis risiko yang diterapkan oleh Uni Eropa . Memanfaatkan AI untuk merancang antibodi, antivirus, dan vaksin juga harus menjadi prioritas, sebagai upaya defensif yang sepadan dengan risiko yang ditimbulkan oleh kemajuan teknologi ini .