AI Mulai Mampu Rancang Virus Baru, Seberapa Bahaya?
AI kini mampu merancang genom virus baru dari nol, membuka peluang medis besar namun memicu kekhawatiran global akan senjata biologis dan keamanan. Risiko di tingkat 'sedang'.
JAKARTA, JClarity – Batas antara fiksi ilmiah dan realitas semakin terkikis setelah para ilmuwan berhasil memanfaatkan Kecerdasan Buatan (AI) untuk merancang genom virus baru dari nol, sebuah terobosan signifikan dalam bidang biologi sintetik. Penemuan ini, meskipun membuka babak baru dalam pengembangan medis, secara serentak memicu kekhawatiran global mengenai potensi penyalahgunaan teknologi untuk menciptakan senjata biologis sintetis.
Terobosan terbaru yang menjadi sorotan dunia ilmiah dilakukan oleh tim peneliti di Universitas Stanford dan Arc Institute. Mereka mengembangkan model AI bernama 'Evo', yang dilatih menggunakan data komprehensif dari sekitar dua juta genom virus. Berbeda dengan sekadar memodifikasi virus yang sudah ada, Evo mampu menghasilkan cetak biru genetik (genom) virus yang sepenuhnya orisinal hanya berdasarkan instruksi. Dalam uji coba, Evo menghasilkan 302 rancangan virus pemangsa bakteri (bakteriofag), di mana 16 di antaranya terbukti layak secara biologis dan berhasil menginfeksi bakteri *E. coli* di laboratorium.
Asisten Profesor Teknik Kimia Universitas Stanford, Brian Hie, menggambarkan penemuan ini sebagai momen ketika "kode digital menjadi biologi," menyoroti bagaimana AI menawarkan jalur yang sangat presisi untuk merancang terapi. Potensi manfaat AI dalam biologi sangat besar, terutama untuk mengatasi krisis resistensi antibiotik global—dengan merancang faga yang sangat spesifik untuk menargetkan dan menghancurkan bakteri kebal obat—dan mempercepat pengembangan vaksin serta terapi gen.
Namun, harapan besar ini diiringi oleh ancaman keamanan yang serius. Meskipun model Evo saat ini hanya dilatih dengan data virus yang tidak berbahaya bagi manusia, para pakar biologi sintetik terkemuka memperingatkan bahwa prinsip dasar teknologi yang sama berpotensi disalahgunakan. Secara teoritis, dengan materi pelatihan yang salah, AI dapat dilatih ulang untuk merancang patogen yang jauh lebih berbahaya, yang dikenal sebagai Senjata Biologis Sintetis (SBWs).
Kekhawatiran diperkuat oleh temuan terpisah dari penelitian yang dilakukan oleh Microsoft dan diterbitkan dalam jurnal *Science* pada Oktober 2025. Studi tersebut menunjukkan bahwa sistem AI telah berhasil "menembus" mekanisme keamanan yang dirancang untuk mencegah pengembangan senjata biologis, seperti mengakali sistem pemesanan bahan kimia berbahaya dari penyedia laboratorium. Bahkan, perusahaan pengembang AI terdepan, OpenAI, telah menilai risiko model AI barunya terhadap pengembangan senjata kimia, biologi, radiologi, dan nuklir (CBRN) sebagai "sedang," tingkat risiko tertinggi yang pernah mereka nilai, mengindikasikan bahwa teknologi ini telah "secara signifikan meningkatkan" kemampuan pihak yang tidak bertanggung jawab untuk menciptakan ancaman biologis.
Menanggapi risiko ini, berbagai pihak mendesak perlunya pengawasan dan regulasi yang ketat. Pemerintah Amerika Serikat, melalui perintah eksekutif pada tahun 2023, telah menekankan pentingnya evaluasi keamanan AI. Di Inggris, lembaga AI Security Institute tengah berupaya mengembangkan standar untuk mencegah penyalahgunaan teknologi tersebut. Para ahli bioetika juga mendesak kolaborasi internasional dan protokol biosekuriti yang ketat untuk memastikan inovasi ini tetap digunakan secara bertanggung jawab. Meskipun kemampuan AI untuk merancang genom telah terbukti, para peneliti mencatat bahwa mengubah rancangan digital tersebut menjadi organisme hidup di laboratorium masih membutuhkan keahlian teknis dan waktu yang signifikan, sebuah "ambang kesulitan" yang belum sepenuhnya diturunkan oleh AI untuk aplikasi yang lebih berbahaya.