Teknologi

AI Mulai Mampu Rancang Virus Baru, Seberapa Bahaya?

Kekhawatiran biosekuriti global meningkat seiring kemampuan AI generatif mempercepat rancangan patogen baru. Pakar mendesak regulasi ketat untuk mitigasi risiko pandemi.

Jakarta · Wednesday, 15 October 2025 19:00 WITA · Dibaca: 50
AI Mulai Mampu Rancang Virus Baru, Seberapa Bahaya?

Jakarta, JClarity – Kemajuan pesat dalam Kecerdasan Buatan (AI), terutama model-model generatif yang dilatih dengan data biologis, telah membuka potensi besar bagi inovasi medis, namun sekaligus memicu kekhawatiran global mengenai risiko biosekuriti. Para pakar memperingatkan bahwa AI kini mulai menunjukkan kemampuan untuk merancang patogen baru dengan sifat-sifat yang mengkhawatirkan, bahkan berpotensi memicu pandemi skala besar.

Kemampuan ini timbul dari sifat "teknologi dwiguna" (dual-use). Agar sebuah model AI dapat merancang vaksin yang aman atau obat yang efektif, model tersebut harus terlebih dahulu memahami apa yang berbahaya. Penelitian terbaru bahkan telah menunjukkan bahwa ilmuwan berhasil menggunakan AI untuk membangun bakteriofag baru—virus yang hanya menyerang bakteri—yang secara teknis berbeda dari strain yang sudah ada, menunjukkan bahwa AI memiliki kemampuan dasar untuk merancang bentuk kehidupan baru.

Tingkat bahaya meningkat secara signifikan karena AI mampu mempercepat proses penelitian yang tadinya memerlukan keahlian dan waktu bertahun-tahun. Para ahli mengkhawatirkan AI dapat membantu mengoptimalkan urutan gen atau menemukan mekanisme resistensi, yang berpotensi menciptakan patogen yang mampu mempertahankan tingkat penularannya sekaligus mempertahankan tingkat kebugaran (keganasan/mematikan) yang tinggi. Selain itu, laporan dari para peneliti menunjukkan bahwa AI dapat dengan mudah mengakali atau melewati langkah-langkah keamanan yang ada, seperti yang digunakan untuk mencegah aktor jahat memesan molekul beracun dari perusahaan penyedia.

Ancaman biosekuriti ini tidak hanya berasal dari aktor jahat atau teroris. Risiko juga mencakup pengembangan patogen yang tidak disengaja oleh peneliti yang bermaksud baik namun kurang menerapkan protokol keamanan yang tepat. Hal ini menurunkan ambang batas bagi individu atau kelompok non-negara untuk mengakses kemampuan yang sebelumnya hanya dimiliki oleh fasilitas laboratorium dengan tingkat keamanan tinggi.

Menanggapi potensi risiko pandemi skala besar, para profesional kesehatan masyarakat dan hukum dari institusi terkemuka seperti Johns Hopkins Center for Health Security dan RAND mendesak pemerintah untuk memperkenalkan pengawasan wajib dan 'pagar pengaman' bagi model-model biologis canggih. Langkah-langkah yang diusulkan termasuk pengujian model ('red-teaming') untuk menilai apakah mereka dapat menimbulkan risiko tingkat pandemi sebelum dirilis, serta kontrol akses yang dilisensikan untuk model perancangan sekuens biologis yang berbahaya. Kolaborasi antara pemerintah, pengembang AI, dan pakar biosekuriti sangat diperlukan untuk merumuskan kebijakan yang dapat memitigasi risiko tanpa menghambat inovasi yang bertanggung jawab.

Login IG