Teknologi

AI Bikin Jam Kerja Karyawan Malah Bertambah, Riset Membuktikan

Riset terbaru membuktikan penggunaan AI generatif, seperti ChatGPT, justru menambah jam kerja karyawan karena memicu 'availability creep' dan ekspektasi output yang lebih tinggi.

Jakarta · Tuesday, 28 October 2025 18:00 WITA · Dibaca: 59
AI Bikin Jam Kerja Karyawan Malah Bertambah, Riset Membuktikan

JAKARTA, JClarity – Ekspektasi bahwa Kecerdasan Buatan (AI) akan meringankan beban kerja dan memberikan lebih banyak waktu luang bagi karyawan ternyata bertolak belakang dengan temuan ilmiah terbaru. Sebuah riset komprehensif dari para ekonom Amerika Serikat justru menunjukkan bahwa penggunaan AI generatif, seperti ChatGPT, secara signifikan telah memperpanjang jam kerja karyawan dan mengikis waktu senggang mereka.

Temuan mengejutkan ini terungkap dalam makalah berjudul “AI and the Extended Workday: Productivity, Contracting Efficiency, and Distribution of Rents”. Riset tersebut dilakukan oleh tim ekonom dari berbagai universitas, termasuk Wei Jiang dari Emory University, Junyoung Park dari Auburn University, Rachel (Jiqiu) Xiao dari Fordham University, dan Shen Zhang dari Seton Hall University.

Para peneliti menganalisis data survei tahunan American Time Use Survey (ATUS) yang dikumpulkan oleh Biro Statistik Tenaga Kerja AS sejak tahun 2004 hingga 2023 untuk memverifikasi pengalaman pribadi yang mereka temukan di kalangan kolega. Hasilnya menguatkan dugaan awal: alih-alih menikmati efisiensi, karyawan pada pekerjaan yang terpapar AI justru merasa tertekan untuk menghasilkan lebih banyak output dalam jangka waktu yang lebih singkat.

Peningkatan jam kerja ini dipicu oleh fenomena yang oleh para ekonom disebut sebagai “availability creep”. Ketika AI mempercepat siklus kerja dan memungkinkan penyelesaian tugas dalam hitungan menit, ekspektasi manajerial untuk respons dan penyelesaian tugas yang cepat pun ikut meningkat secara tidak proporsional. Karyawan merasa harus selalu 'tersedia' dan responsif, yang pada akhirnya mendorong mereka untuk bekerja lebih lama, bahkan di luar jam formal.

Profesor Wei Jiang, salah satu peneliti utama, mengaku bahwa ia awalnya terpesona dengan kemampuan AI dan berharap dapat meringankan beban kerjanya. Namun, ia justru mendapati dirinya bekerja lebih lama. Fenomena ini diperparah dengan kecenderungan pimpinan perusahaan untuk memberikan tugas tambahan dengan dalih bahwa pekerjaan tersebut ‘mudah karena dibantu AI’, yang ironisnya malah menambah beban dan jam kerja riil karyawan.

Implikasi dari temuan ini sangat serius terhadap keseimbangan kehidupan kerja (work-life balance) dan potensi peningkatan kasus burnout atau kelelahan kerja. Perusahaan dan pembuat kebijakan didorong untuk meninjau ulang regulasi dan implementasi teknologi AI, memastikan bahwa efisiensinya benar-benar berujung pada peningkatan kualitas hidup pekerja, bukan sekadar peningkatan ekspektasi output tanpa batas.

Login IG