Teknologi

AI Bikin Jam Kerja Karyawan Malah Bertambah, Riset Membuktikan

Riset terbaru membuktikan bahwa AI generatif seperti ChatGPT membuat jam kerja karyawan bertambah rata-rata 3,15 jam per minggu, mengurangi waktu luang, dan menurunkan kepuasan kerja.

Jakarta · Monday, 27 October 2025 19:00 WITA · Dibaca: 84
AI Bikin Jam Kerja Karyawan Malah Bertambah, Riset Membuktikan

Jakarta, JClarity – Ekspektasi bahwa Kecerdasan Buatan (AI) akan meringankan beban kerja dan memberikan waktu luang lebih bagi karyawan ternyata bertolak belakang dengan realitas lapangan. Sebuah riset terbaru dari akademisi Amerika Serikat menunjukkan bahwa penggunaan AI generatif seperti ChatGPT justru mengakibatkan peningkatan jam kerja yang signifikan dan mengikis waktu luang para pekerja.

Temuan mengejutkan ini diungkap dalam makalah berjudul "AI and the Extended Workday: Productivity, Contracting Efficiency, and Distribution of Rents" yang disusun oleh sejumlah ekonom, termasuk Wei Jiang dari Emory University. Penelitian tersebut menganalisis data tahunan dari American Time Use Survey (ATUS) yang dikumpulkan oleh Biro Statistik Tenaga Kerja AS dari tahun 2004 hingga 2023, untuk melihat bagaimana paparan AI memengaruhi pola kerja dan waktu luang karyawan.

Hasil analisis menunjukkan bahwa pada periode 2022-2023, ketika penggunaan AI mulai meluas, karyawan yang pekerjaannya lebih sering terpapar teknologi AI generatif melaporkan rata-rata penambahan jam kerja sekitar 3,15 jam per minggu. Ironisnya, sejalan dengan peningkatan jam kerja, waktu luang mereka juga berkurang sekitar 3,20 jam per minggu.

Para peneliti menggarisbawahi adanya paradoks: AI memang terbukti meningkatkan produktivitas karyawan, namun manfaat dari peningkatan efisiensi tersebut tidak sepenuhnya kembali kepada pekerja. Sebaliknya, peningkatan produktivitas didorong untuk menangani lebih banyak tugas, yang pada akhirnya memperpanjang hari kerja. Jiang, salah satu peneliti, menyatakan bahwa keuntungan dari efisiensi AI dalam pasar tenaga kerja yang kompetitif lebih banyak dinikmati oleh pemilik perusahaan dan konsumen, sementara daya tawar karyawan menjadi rendah.

“Meskipun peningkatan produktivitas yang didorong oleh AI menjanjikan efisiensi yang lebih besar, hal ini justru mengakibatkan jam kerja yang lebih panjang dan kepuasan karyawan yang lebih rendah,” tulis riset tersebut. Selain tekanan untuk menyelesaikan lebih banyak pekerjaan, penelitian juga mencatat faktor lain pendorong bertambahnya jam kerja, yaitu penggunaan teknologi pengawasan berbasis AI (AI surveillance), khususnya pada pekerja jarak jauh yang intensif diawasi.

Temuan ini menjadi sorotan penting bagi dunia industri di Indonesia yang juga sedang gencar mengadopsi AI. Riset tersebut mengindikasikan bahwa implementasi AI harus diikuti dengan peninjauan ulang kebijakan perusahaan terkait beban kerja dan kompensasi, untuk memastikan bahwa teknologi tersebut benar-benar mendukung kesejahteraan kerja, bukan sekadar alat untuk memaksimalisasi output dengan mengorbankan waktu pribadi karyawan.

Login IG