4 Saham dengan Story Backdoor Listing, Bisa Jadi PANI Jilid II?
Cek 4 saham yang dikaitkan dengan narasi backdoor listing di BEI, seperti PACK, LABA, FUTR, dan PIPA. Analisis potensi ulangi kisah sukses PANI Jilid II.
JAKARTA, JClarity – Fenomena backdoor listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali menjadi sorotan tajam, terutama setelah kesuksesan luar biasa PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) yang harga sahamnya melesat hingga ribuan persen pasca-diakuisisi oleh Grup Agung Sedayu. Kisah PANI, yang bertransformasi dari perusahaan kemasan menjadi raksasa properti kawasan elit, telah menciptakan tolok ukur baru yang mendorong investor memburu saham-saham dengan narasi serupa.
Daftar Isi
Istilah backdoor listing merujuk pada strategi akuisisi perusahaan publik (tercatat di bursa) oleh perusahaan privat (tidak tercatat) berskala besar. Tujuannya adalah untuk mengakuisisi 'cangkang' perusahaan terbuka guna mendapatkan akses pendanaan publik dengan proses yang lebih cepat, hemat biaya, dan minim kerumitan administratif dibandingkan mekanisme Penawaran Umum Perdana (IPO) tradisional.
Kini, sejumlah emiten berkapitalisasi kecil yang baru-baru ini mengalami pergantian pengendali dan rencana perubahan bisnis fundamental digadang-gadang berpotensi menjadi “PANI Jilid II.” Setidaknya ada empat emiten yang paling menonjol dalam narasi backdoor listing terbaru, terutama pada periode 2024-2025, yang mayoritas beralih fokus ke sektor energi dan komoditas masa depan.
Empat Saham dengan Story Backdoor Listing yang Disorot:
- PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK)
PACK menjadi salah satu kandidat terkuat yang menarik perhatian. Emiten ini sebelumnya bergerak di sektor kemasan digital. Namun, pada Oktober 2024, PACK diakuisisi oleh PT Eco Energi Perkasa (EEP), entitas yang terafiliasi dengan CNGR Advanced Material Co., Ltd., perusahaan raksasa Tiongkok di industri material baterai kendaraan listrik. Akuisisi ini dianggap sebagai backdoor listing dengan rencana perusahaan akan melakukan injeksi aset dan *rights issue* besar-besaran untuk mengubah bisnis intinya ke sektor pertambangan nikel dan material baterai. CNGR bahkan dikabarkan merencanakan investasi hingga US$10 miliar di Indonesia.
- PT Green Power Energy Tbk (LABA)
LABA, yang dulunya bernama PT Ladangbaja Murni Tbk, telah resmi berganti fokus dari bisnis baja ke sektor Energi Baru dan Terbarukan (EBT). Perubahan ini terjadi setelah diakuisisi oleh PT Nev Stored Energy dan PT Longpin Investasi Indonesia pada Juni 2024, yang memiliki koneksi dengan Gotion, pemain global di industri baterai EV. Saat ini, LABA berfokus pada bisnis baterai kendaraan listrik dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), mengikuti tren global energi bersih.
- PT Futura Energi Global Tbk (FUTR)
FUTR telah menjadi sorotan setelah mengalami perubahan pengendali tidak langsung pada akhir tahun 2024, di mana pemegang sahamnya diakuisisi oleh PT Aurora Dhana Nusantara (Ardhantara). Emiten yang awalnya bergerak di bidang periklanan ini kini bertransformasi total menjadi perusahaan energi, fokus pada energi baru dan terbarukan (EBT), termasuk proyek energi panas bumi (geotermal). Per September 2025, Ardhantara telah mengakuisisi 45% saham FUTR. Aksi korporasi ini diyakini sejalan dengan visi energi bersih jangka panjang yang diharapkan dapat memberikan dampak positif signifikan.
- PT Multi Makmur Lemindo Tbk (PIPA)
PIPA menjadi kandidat backdoor listing yang paling baru mencuat. Setelah pengumuman akuisisi oleh investor baru PT Morris Capital Indonesia, harga saham PIPA melonjak signifikan. Morris Capital tengah berproses mengambil alih saham pengendali. Meskipun belum ada pengumuman final mengenai injeksi aset atau perubahan struktur bisnis total, PIPA juga telah menjalin kerja sama strategis dengan perusahaan Tiongkok di bidang petrokimia dan membuka peluang untuk masuk ke pasar oil & gas.
Analisis dan Risiko: Apakah Bisa Jadi PANI Jilid II?
Analis pasar modal menekankan bahwa euforia backdoor listing harus disikapi dengan hati-hati. Meskipun saham-saham tersebut menawarkan potensi multibagger karena adanya injeksi aset besar dan perombakan bisnis dari entitas konglomerasi kuat (seperti yang terjadi pada PANI oleh Agung Sedayu dan Grup Salim), risiko volatilitasnya juga sangat tinggi.
Kisahnya sukses PANI dianggap sebagai anomali di pasar. Banyak emiten yang diakuisisi mengalami kenaikan harga jangka pendek, namun harga kembali meredup jika eksekusi injeksi aset besar (biasanya melalui rights issue) dan realisasi kinerja bisnis baru tertunda atau berjalan kurang baik. Investor disarankan untuk jeli membaca arah restrukturisasi, kemampuan manajemen baru, dan memastikan skala investasi yang masuk benar-benar material.