Wikipedia Mulai Sepi! AI dan TikTok Kini Jadi 'Guru' Baru Dunia Maya
Wikipedia mulai kehilangan relevansi karena Gen Z memilih AI dan TikTok sebagai sumber informasi. Tren ini menimbulkan kekhawatiran tentang kualitas dan verifikasi data.
JAKARTA, JClarity – Lanskap informasi global mengalami pergeseran signifikan. Wikipedia, ensiklopedia daring kolaboratif yang selama dua dekade menjadi rujukan utama, kini menghadapi tantangan serius seiring munculnya dua 'guru' baru dunia maya: Kecerdasan Buatan Generatif (AI) dan platform video pendek, khususnya TikTok.
Survei dan laporan terbaru menunjukkan adanya tren di mana pengguna, terutama dari generasi muda (Gen Z), mulai memprioritaskan kecepatan dan visualisasi dalam mencari informasi. Model AI seperti ChatGPT dan Gemini menawarkan jawaban instan yang terangkum, sementara TikTok menyajikan konten edukatif dalam format video singkat yang sangat mudah dicerna, sebuah evolusi yang mengancam dominasi teks komprehensif Wikipedia.
Peran AI sebagai 'guru' baru didasarkan pada kemampuannya untuk menyintesis data dari miliaran sumber dan menyajikannya sebagai ringkasan yang kohesif. Pengguna tidak lagi perlu menjelajahi artikel panjang untuk mendapatkan pemahaman dasar. Namun, kemudahan ini datang dengan risiko inheren, yakni 'halusinasi' AI—respons yang salah atau tidak berdasar—yang kian menuntut tingkat literasi digital yang lebih tinggi dari pengguna.
Di sisi lain, TikTok telah bermetamorfosis dari sekadar platform hiburan menjadi mesin pencari visual. Istilah "TikTokification of Search" mencerminkan bagaimana jutaan orang kini mencari tips, tutorial, berita singkat, hingga penjelasan ilmiah melalui video vertikal berdurasi kurang dari satu menit. Daya tarik visual dan format 'infotainment' ini jauh lebih unggul dalam memenangkan atensi generasi yang terbiasa dengan konsumsi konten cepat.
Pergeseran ini menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan akademisi dan pakar informasi. Sementara Wikipedia berjuang dengan menurunnya jumlah editor sukarelawan dan tantangan pembaruan, sumber-sumber baru ini menghadapi masalah kredibilitas. Konten edukasi di TikTok seringkali tidak melalui proses verifikasi yang ketat, dan AI masih berjuang dengan masalah akuntabilitas sumber.
Guru Besar Ilmu Komunikasi Digital dari Universitas Indonesia, Prof. Dr. Bima Santoso (nama samaran), berpendapat bahwa ini adalah era fragmentasi informasi. “Kita beralih dari satu sumber otoritatif (Wikipedia) ke ribuan suara yang terpersonalisasi (TikTok dan AI). Tantangan terbesar kini bukan lagi pada akses, melainkan pada kemampuan memfilter hoaks dan informasi bias. Literasi digital adalah kurikulum wajib di dunia baru ini,” ujarnya.
Untuk mempertahankan relevansinya, Wikipedia Foundation dilaporkan sedang menjajaki integrasi AI untuk membantu penyuntingan dan pembaruan, menunjukkan bahwa bahkan benteng pengetahuan kolaboratif pun harus beradaptasi dengan gelombang teknologi yang tak terhindarkan ini.