Video: Tutup Wajah Anak dengan Stiker Emoji Belum Tentu Aman.
Menutupi wajah anak dengan emoji di video/foto media sosial diklaim tak aman. Ahli siber peringatkan AI dapat menghapus stiker dan risiko akumulasi data. [1.4, 1.2]
JAKARTA, JClarity – Praktik menutupi wajah anak dengan stiker emoji dalam foto atau video yang diunggah ke media sosial, yang selama ini dianggap sebagai solusi cepat untuk menjaga privasi, kini dikhawatirkan sudah tidak lagi efektif dan memberikan rasa aman yang palsu. Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) serta risiko akumulasi data (sharenting) menjadi sorotan utama yang membuktikan bahwa metode sensor ini bukan jaminan perlindungan data pribadi anak di ranah digital.
Pakar keamanan siber, Lisa Ventura, menegaskan bahwa penempatan stiker emoji pada wajah anak hampir tidak memberikan perlindungan privasi yang nyata. Meskipun wajah telah disamarkan, orang tua seringkali tanpa sadar membagikan informasi penting lainnya, seperti latar belakang lokasi, seragam sekolah, atau petunjuk perkiraan usia, yang jika dikumpulkan dari berbagai unggahan dapat membentuk profil lengkap dan menciptakan risiko privasi yang jauh lebih besar.
Kekhawatiran utama saat ini adalah kemampuan teknologi AI yang semakin canggih. Menurut para ahli, alat berbasis AI kini berpotensi untuk dengan mudah menghapus stiker atau sensor digital lainnya untuk menampilkan kembali wajah asli anak. Hal ini membuka celah penyalahgunaan data, seperti untuk tujuan cyberbullying, manipulasi digital, hingga eksploitasi seksual oleh predator daring.
Di Indonesia, isu perlindungan data anak di ruang digital menjadi semakin mendesak. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) telah mengklasifikasikan data anak sebagai data pribadi yang sensitif. Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) juga tengah menyusun regulasi turunan, yaitu Peraturan Pemerintah (PP) tentang Tata Kelola Perlindungan Anak dalam Penyelenggaraan Sistem Elektronik (PP TKAPSE), sebagai langkah konkret untuk mengamankan ruang digital.
Menanggapi dilema ini, Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Subspesialis Anak dan Remaja, dr. Anggia Hapsari, menyarankan agar orang tua mempertimbangkan untuk tidak mengunggah foto atau video anak sama sekali. Menurutnya, tindakan sensor menggunakan stiker justru dapat mengundang rasa penasaran orang lain dan berisiko untuk disalahgunakan. Lebih lanjut, mengunggah konten anak di media sosial berisiko menghilangkan hak penggunaan atas gambar tersebut, di mana platform dapat menggunakannya secara global dan bahkan meneruskannya ke pihak ketiga.
Para ahli mendesak orang tua untuk sepenuhnya mengevaluasi konsekuensi jangka panjang dari sharenting, termasuk risiko pencurian identitas di masa depan dan hak anak untuk menceritakan kisah dirinya sendiri ketika dewasa. Bijak dalam berbagi, dan bukan hanya mengandalkan stiker, adalah kunci utama dalam melindungi keselamatan dan privasi generasi digital.