Starlink Gandeng Samsung Kembangkan Chipset Modem AI untuk Revolusi Internet Tanpa Menara Seluler
Starlink gandeng Samsung kembangkan chipset modem AI 6G untuk layanan Direct-to-Cell. Ponsel bisa internetan dan telepon langsung dari satelit tanpa BTS.
JAKARTA, JClarity – Starlink, layanan internet satelit orbit rendah (LEO) milik SpaceX, dikabarkan menjalin kemitraan strategis dengan raksasa teknologi Korea Selatan, Samsung, untuk mengembangkan teknologi konektivitas seluler masa depan. Kolaborasi ini difokuskan pada penciptaan sebuah chipset modem berbasis Kecerdasan Buatan (AI) yang dirancang khusus untuk mengoptimalkan layanan 'Direct-to-Cell' (D2C) generasi berikutnya, yang memungkinkan ponsel terhubung langsung ke satelit tanpa memerlukan menara seluler atau Base Transceiver Station (BTS) di darat.
Layanan Direct-to-Cell (D2C) yang telah diluncurkan Starlink sejak awal 2024 untuk layanan pesan teks dan diperluas ke layanan suara dan data pada tahun 2025, bertujuan untuk mengeliminasi 'zona mati' seluler di seluruh dunia. Dengan teknologi D2C, satelit Starlink bertindak layaknya BTS di luar angkasa, menyediakan konektivitas menggunakan ponsel 4G/LTE standar tanpa modifikasi perangkat keras atau aplikasi khusus.
Kemitraan dengan Samsung ini dilaporkan berorientasi pada jaringan 6G Non-Terrestrial Network (NTN). Samsung dikabarkan bertugas membangun modem Exynos yang didukung NPU (Neural Processing Unit). Keunggulan utama modem berbasis AI ini adalah kemampuannya untuk memprediksi lintasan satelit dan mengoptimalkan tautan sinyal secara real-time. Kemampuan ini sangat penting mengingat satelit LEO bergerak dengan kecepatan puluhan ribu kilometer per jam.
Menurut laporan, modem AI baru dari Samsung ini menunjukkan potensi peningkatan kinerja identifikasi berkas sinyal hingga 55 kali lipat dan prediksi saluran sebesar 42 kali lipat dibandingkan model yang ada saat ini. Inovasi ini akan memastikan perpindahan koneksi antar-satelit yang lebih lancar dan konsisten, sebuah keharusan untuk layanan internet satelit berkecepatan tinggi.
Bagi negara kepulauan seperti Indonesia, di mana tantangan geografis seringkali menghambat pembangunan infrastruktur BTS, teknologi Starlink Direct-to-Cell dipandang sebagai solusi revolusioner. Kehadiran D2C menawarkan potensi besar untuk pemerataan akses digital, khususnya di wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T), serta menjadi solusi komunikasi krusial saat terjadi bencana alam yang merusak infrastruktur darat.
Dengan dukungan modem AI dari Samsung untuk evolusi ke jaringan 6G NTN, Starlink berambisi tidak hanya menutup celah konektivitas tetapi juga mentransformasi arsitektur telekomunikasi global, menjanjikan kinerja yang jauh melampaui sistem D2C generasi pertama. Meskipun biaya awal perangkat dan langganan Starlink tergolong relatif tinggi, kemampuan koneksi langsung ke ponsel ini diperkirakan akan menjadi game-changer yang mengubah cara pengguna di seluruh dunia, termasuk Indonesia, mengakses internet di lokasi yang tidak terjangkau jaringan seluler konvensional.