Romansa Ekonomi Kreatif dan Literasi Digital di Era 'Big Data'.
Sektor Ekonomi Kreatif Indonesia menjadi 'mesin baru pertumbuhan' dengan ekspor US$13 miliar (2025) ditopang Literasi Digital untuk mengolah Big Data.
JAKARTA, JClarity – Di tengah pusaran gelombang transformasi digital yang kian masif, sinergi antara Ekonomi Kreatif (Ekraf) dan Literasi Digital telah melahirkan sebuah ‘romansa’ baru yang menjadi tumpuan pertumbuhan ekonomi nasional. Era 'Big Data' menjadikan informasi sebagai sumber daya yang paling berharga, di mana setiap jejak digital—dari klik hingga transaksi daring—dapat diubah menjadi peluang ekonomi. Tanpa adanya Literasi Digital yang memadai, data-data tersebut hanya akan menjadi deretan angka tanpa makna, sebab literasi adalah kunci yang mengubah data menjadi peluang dan kreativitas menjadi nilai ekonomi.
Sektor Ekraf kini diakui sebagai “Mesin Baru Pertumbuhan Nasional” (The New Engine of Growth), sebuah predikat yang didukung oleh kinerja yang impresif. Data terkini menunjukkan kontribusi sektor Ekraf terus menguat di tengah pemulihan ekonomi global. Hingga pertengahan tahun 2025, nilai ekspor produk ekonomi kreatif Indonesia telah menembus sekitar 13 miliar dolar AS, atau setara Rp 215 triliun, mencapai 50 persen dari target tahunan. Selain itu, sektor ini berhasil menyerap lebih dari 26,47 juta tenaga kerja, dengan subsektor unggulan seperti fesyen, kriya, dan kuliner menjadi motor utama penggerak devisa.
Titik temu paling nyata dari “romansa” ini terlihat pada cara pelaku Ekraf, mulai dari desainer, musisi, hingga kreator konten, memanfaatkan data algoritmik. Mereka tidak lagi semata mengandalkan bakat, namun juga kecakapan membaca tren digital. Contohnya, kesuksesan musisi lokal di platform digital global ditentukan oleh kecerdasan mereka dalam menafsirkan data mulai dari demografi pendengar hingga tren penggunaan tagar, yang memungkinkan karya mereka menjangkau pasar lintas negara. Literasi digital dalam konteks ini berarti kemampuan untuk memahami, menafsirkan, dan mengolah data serta informasi dalam ruang digital yang melimpah.
Pemerintah, melalui berbagai inisiatif, terus berupaya memperkuat ekosistem ini. Program Literasi Digital Nasional “Indonesia Makin Cakap Digital” yang diluncurkan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), misalnya, menargetkan jangkauan hingga 50 juta masyarakat sampai tahun 2024. Program ini berfokus pada empat pilar utama: Kecakapan Digital (Digital Skill), Etika Digital (Digital Ethic), Keamanan Digital (Digital Safety), dan Budaya Digital (Digital Culture). Penguatan ini sangat krusial, terutama bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kreatif, agar mampu “naik kelas” melalui digitalisasi, memperluas akses pasar, dan memanfaatkan e-commerce.
Lonjakan investasi di sektor kreatif yang mencapai Rp 90,12 triliun hingga pertengahan tahun 2025 menunjukkan tingginya kepercayaan investor terhadap potensi industri ini. Namun, untuk mengoptimalkan potensi ini, peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) yang cakap data menjadi keniscayaan. Sinergi antara kreativitas dan pemahaman mendalam terhadap data algoritmik adalah kunci keberlanjutan Ekraf Indonesia, memastikan bahwa generasi muda—terutama Gen Z yang fasih teknologi—memiliki modal untuk membentuk pola pikir inovatif. Kolaborasi erat antara pelaku Ekraf, pemerintah, dan pengembang teknologi digital akan menentukan apakah “romansa” ini akan menjadi fondasi kokoh menuju Indonesia Emas 2045.