Internet

Psikolog Forensik Ingatkan Bahaya ChatGPT bagi Anak yang Kesepian

Psikolog Forensik keluarkan peringatan keras tentang bahaya ChatGPT bagi anak kesepian. Ketergantungan pada AI disebut merusak empati dan kemampuan sosial.

JAKARTA · Friday, 14 November 2025 10:00 WITA · Dibaca: 41
Psikolog Forensik Ingatkan Bahaya ChatGPT bagi Anak yang Kesepian

JAKARTA, JClarity – Peringatan serius datang dari kalangan profesional kesehatan mental terkait penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) oleh generasi muda. Seorang psikolog forensik mengingatkan akan bahaya yang mengintai anak-anak yang merasa kesepian ketika mereka menjadikan ChatGPT sebagai 'teman curhat' utama. Ketergantungan emosional pada AI dinilai dapat menghambat perkembangan sosial dan kemampuan mengelola emosi mereka.

Fenomena 'curhat' ke ChatGPT atau chatbot AI lainnya semakin marak, terutama di kalangan remaja dan anak muda yang merasa sulit mendapatkan ruang aman untuk berekspresi dalam lingkungan sosial atau keluarga. Menurut para pakar psikologi, AI menawarkan ilusi koneksi dan kenyamanan karena selalu merespons secara instan dan tidak menghakimi, yang membuatnya terasa ideal di mata anak-anak yang kesepian.

Namun, para ahli menekankan bahwa interaksi dengan AI pada dasarnya 'palsu' dan 'kosong' karena mesin tidak memiliki kemampuan untuk merasakan, memahami secara emosional, atau memberikan empati sejati seperti yang dapat dilakukan oleh manusia. Psikolog dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prilya Shanty Andrianie, S.Psi., M.Psi., Psikolog, mengingatkan bahwa solusi yang diberikan oleh AI bersifat 'template' tanpa mempertimbangkan aspek kepribadian, pola asuh, kondisi keluarga, dan latar belakang individu yang kompleks.

Lebih jauh, ketergantungan pada AI memiliki risiko serius terhadap kesehatan mental dan perkembangan kognitif anak. Respons instan dari AI dapat menyebabkan remaja kurang belajar dalam mengelola frustrasi, menunggu, atau bernegosiasi dalam interaksi manusia yang nyata. Hal ini berpotensi memicu gangguan psikologis seperti problematic internet use dan adiksi internet, yang berdampak pada menurunnya kemampuan bersosialisasi, berkomunikasi dua arah, dan berpikir kritis.

Studi terbaru, termasuk dari MIT, juga menunjukkan kekhawatiran mendalam bahwa ketergantungan berlebihan pada model bahasa seperti ChatGPT dapat menghambat perkembangan otak, terutama pada anak muda, serta mengurangi inisiatif berpikir mandiri, yang ditandai dengan kecenderungan *copy-paste* dan minimnya kreativitas.

Oleh karena itu, para psikolog menekankan pentingnya peran orang tua dalam membangun komunikasi dua arah yang sehat, mendengarkan tanpa menghakimi, dan memberikan literasi digital. Orang tua disarankan untuk menetapkan batasan penggunaan gawai, membangun rutinitas keluarga 'bebas teknologi', dan mendorong anak memperluas pergaulan nyata, misalnya melalui kegiatan ekstrakurikuler atau sistem dukungan sebaya (*peer support system*). AI harus diposisikan sebagai alat bantu atau pendamping, bukan pengganti psikolog atau relasi manusia.

Login IG