Penguasa Baru Internet Murah Ramaikan Persaingan Fixed Broadband Indonesia.
Persaingan Fixed Broadband Indonesia memanas seiring munculnya 'penguasa baru' di segmen internet murah, terutama didorong adopsi teknologi FWA dan FMC.
JAKARTA, JClarity – Pasar Fixed Broadband (FBB) di Indonesia sedang memasuki babak baru persaingan yang semakin ketat, ditandai dengan munculnya 'penguasa baru' di segmen internet murah dan konvergensi layanan. Fenomena ini, yang sebagian besar didorong oleh adopsi teknologi Fixed Wireless Access (FWA) dan strategi Fixed-Mobile Convergence (FMC) dari para operator besar, menciptakan tekanan harga yang signifikan dan mempercepat penetrasi internet di luar wilayah yang terjangkau oleh kabel fiber optik tradisional.
Data terbaru menunjukkan bahwa penetrasi FBB di Indonesia masih relatif rendah, berkisar antara 27,40% dari total rumah tangga, yang berarti potensi pasar masih sangat besar. Dalam konteks inilah FWA hadir sebagai solusi yang lebih ekonomis dan fleksibel. Layanan seperti Telkomsel Orbit (bagian dari Telkom Group yang juga mengelola IndiHome) telah menjadi ujung tombak dalam segmen ini, memanfaatkan jaringan seluler yang luas untuk menyediakan konektivitas WiFi rumah tanpa perlu instalasi kabel. Strategi ini memungkinkan layanan internet stabil menjangkau area urban dan suburban, menantang dominasi layanan kabel yang selama ini dianggap mahal.
Perkembangan ini semakin diperkuat oleh konsolidasi industri. Integrasi layanan IndiHome ke Telkomsel yang telah rampung merupakan bagian dari inisiatif FMC, menjadikannya pemain tunggal dengan jangkauan terluas di seluruh negeri, mencakup FWA dan fiber. Langkah korporasi ini memicu reaksi agresif dari pesaing utama. XL Axiata, misalnya, telah memperkuat layanan konvergensinya, XL SATU, dan melalui akuisisi serta konsolidasi, berupaya menjadi pemain FBB terbesar kedua di Indonesia.
Selain itu, munculnya pemain baru di kancah global, seperti Starlink, yang mendapatkan izin operasi ritel, turut meramaikan persaingan, khususnya di daerah terpencil dan belum terlayani (3T) yang sulit dijangkau FWA maupun fiber, menawarkan alternatif koneksi satelit. Sementara itu, penyedia FBB fiber lain seperti Biznet dan Icon Plus (milik PLN) terus meningkatkan kecepatan dan keandalan layanan mereka, menciptakan perang harga dan kualitas di segmen pasar menengah hingga atas.
Dampak langsung dari dinamika ini adalah semakin terjangkaunya layanan internet bagi masyarakat. Mayoritas pengguna internet di Indonesia saat ini memilih paket berlangganan dengan biaya antara Rp100.001 hingga Rp300.000 per bulan, menunjukkan adanya peningkatan permintaan pada rentang harga tersebut. Tekanan kompetisi FWA memaksa operator fiber untuk menawarkan paket yang lebih kompetitif. Dengan optimalisme pertumbuhan pasar FBB yang diprediksi akan mencapai 18,30 juta pelanggan pada tahun 2024, para penyedia layanan dituntut untuk terus berinovasi dan meningkatkan kualitas jaringan agar dapat memenuhi tuntutan kecepatan minimum yang lebih tinggi, sejalan dengan rencana pemerintah.