Pasar Fixed Broadband Baru 21%, Industri Kebut Jaringan Fiber Nasional
Penetrasi fixed broadband rumah tangga di Indonesia baru 21%. Komdigi targetkan 50% pada 2029. Industri telekomunikasi percepat pembangunan jaringan fiber optik nasional.
JAKARTA, JClarity – Rendahnya tingkat penetrasi internet tetap (fixed broadband) di Indonesia, yang saat ini baru menyentuh angka sekitar 21% rumah tangga, memicu akselerasi masif dari pemerintah dan pelaku industri telekomunikasi untuk menggenjot pembangunan jaringan serat optik nasional. Angka tersebut menjadi indikasi pasar yang masih sangat luas, sekaligus menyoroti ketertinggalan konektivitas dibandingkan negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) telah menetapkan target ambisius, yakni meningkatkan penetrasi *fixed broadband* rumah tangga menjadi 50% pada tahun 2029. Direktur Jenderal Infrastruktur Digital Komdigi, Wayan Toni Supriyanto, menjelaskan bahwa target ini juga mencakup perluasan jangkauan serat optik hingga 90% di tingkat kecamatan, serta memastikan layanan berkecepatan minimum 100 Mbps.
Untuk mencapai target tersebut, pemerintah meluncurkan berbagai inisiatif, termasuk Program Kampung Internet yang berfokus pada pemerataan akses di pedesaan dan wilayah terpencil. Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menekankan pentingnya pemanfaatan internet cepat untuk kegiatan produktif, yang diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi digital di daerah.
Di sisi industri, Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) melihat potensi pertumbuhan yang sangat besar dari sektor *fixed broadband*. Meskipun pertumbuhan *fixed broadband* pada tahun 2024 tercatat sekitar 5,69%, tantangan utama masih terletak pada masalah *affordability* atau keterjangkauan tarif, terutama di daerah dengan daya beli masyarakat yang bervariasi.
Operator telekomunikasi pun "tancap gas" dalam pembangunan infrastruktur. PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (Mitratel), anak usaha Telkom, misalnya, melaporkan penambahan panjang jaringan serat optik hingga 18.518 km sepanjang tahun 2024, baik secara organik maupun anorganik. Selain itu, langkah integrasi layanan *Fixed Mobile Convergence* (FMC) yang dilakukan Telkomsel melalui IndiHome juga menjadi strategi kunci untuk memperluas cakupan dan meningkatkan kualitas layanan *fixed broadband* di seluruh Indonesia, termasuk di wilayah luar Jawa.
Analis industri memproyeksikan bahwa pendapatan layanan komunikasi tetap di Indonesia akan terus tumbuh seiring adopsi layanan berbasis *fiber-optic* (FTTH/B) yang semakin meluas. Serat optik diperkirakan akan tetap menjadi teknologi dominan, mencakup sekitar 88% dari total jalur *fixed broadband* hingga tahun 2029. Upaya kolektif antara pemerintah dan industri ini diharapkan dapat memangkas kesenjangan digital dan memperkuat fondasi ekonomi digital nasional.