Misteri Ledakan di SMAN 72 Jakarta: Pelaku Diduga Terpapar Konten Berbahaya dari Internet.
Ledakan di SMAN 72 Jakarta: Polisi menduga pelaku, siswa AR (16), terpapar konten berbahaya dan tutorial perakitan bom rakitan dari forum dan media sosial daring.
JAKARTA, JClarity – Ledakan misterius yang terjadi di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 72 Jakarta pada Selasa sore lalu kini memasuki babak baru yang mengkhawatirkan. Kepolisian Republik Indonesia (Polri) mengonfirmasi bahwa penyelidikan awal mengarah pada dugaan kuat bahwa pelaku, seorang siswa berinisial AR (16), telah terpapar secara intensif oleh konten-konten berbahaya, termasuk materi perakitan bahan peledak, yang diakses melalui internet.
Insiden yang terjadi sekitar pukul 15.30 WIB di area toilet sekolah tersebut hanya menimbulkan kerusakan minor dan melukai ringan pada bagian tangan pelaku. Namun, fokus penyelidikan telah bergeser dari penanganan kasus kriminal biasa menjadi isu keamanan siber dan radikalisasi digital remaja. Pihak berwajib menekankan bahwa kekuatan ledakan yang relatif rendah mengindikasikan bahwa materi yang digunakan adalah bahan dasar sederhana yang instruksinya mudah didapatkan secara daring.
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Yusri Yunus, dalam konferensi pers di Jakarta, menjelaskan hasil forensik digital pada gawai milik AR. “Kami menemukan riwayat penelusuran yang ekstensif, mencakup forum-forum tertutup dan saluran media sosial yang memuat tutorial perakitan bom rakitan sederhana. Selain itu, ada indikasi paparan konten berhaluan radikal yang memicu pemikiran ekstremisme,” ujar Kombes Yusri.
Dugaan paparan konten berbahaya ini sontak memicu reaksi dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) serta Dinas Pendidikan DKI Jakarta. Kominfo menyatakan akan segera meningkatkan patroli siber dan memperketat pengawasan terhadap platform-platform yang menjadi sarang penyebaran konten bermuatan kekerasan dan ekstremisme, khususnya yang menargetkan usia remaja.
Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, berkoordinasi dengan pihak sekolah dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), telah memulai program pemulihan psikologis (trauma healing) bagi siswa dan tenaga pengajar SMAN 72. Kasus ini dianggap sebagai lampu kuning yang mendesak untuk segera direspons melalui peningkatan literasi digital dan pengawasan orang tua terhadap aktivitas daring anak-anak mereka. Penyelidikan terhadap jaringan penyebar konten berbahaya di dunia maya saat ini masih terus didalami oleh Tim Siber Polri.