Internet

Ketika Akses Internet Hadir di Ujung Negeri: Siswa Tak Lagi Jalan Kaki 5 Hari ke Kota

Kisah inspiratif siswa di Maluku Tengah tak perlu lagi jalan kaki 5 hari demi internet ANBK berkat Starlink. Akses digital merata di daerah 3T Indonesia.

Ambon, Maluku · Tuesday, 04 November 2025 22:00 WITA · Dibaca: 49
Ketika Akses Internet Hadir di Ujung Negeri: Siswa Tak Lagi Jalan Kaki 5 Hari ke Kota

Ambon, Maluku, JClarity – Sebuah era baru telah dibuka bagi dunia pendidikan di wilayah terpencil Indonesia. Kisah perjuangan heroik para siswa dan guru di dataran tinggi Seram Utara, Kabupaten Maluku Tengah, yang harus menempuh perjalanan kaki hingga lima hari empat malam ke kota demi mendapatkan akses internet untuk mengikuti Asesmen Nasional (AN), kini tinggal kenangan.

Titik balik tersebut terjadi setelah pemerintah daerah, berkolaborasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Maluku Tengah, mengambil langkah inovatif dengan memasang layanan internet satelit, Starlink, di wilayah yang sebelumnya nyaris terisolasi dari komunikasi. Kehadiran konektivitas digital ini langsung merobohkan sekat geografis yang selama puluhan tahun menjadi penghalang utama bagi kemajuan pendidikan.

Yones Franky Latumutuany, seorang guru di SD YPPK Manusela yang dijuluki “negeri di atas awan,” berbagi pengalamannya. Sebelumnya, untuk sekadar melaksanakan ujian berbasis komputer atau mengakses informasi, ia dan para muridnya harus menyusuri sungai dan hutan, kadang terpaksa menginap di alam terbuka saat air sungai meluap. "Dulu bisa lima hari jalan kaki. Sekarang, semua bisa dilakukan dari sekolah kami. Ini adalah revolusi bagi anak-anak kami," ujarnya.

Kisah sukses di Maluku Tengah ini menjadi cerminan keberhasilan program pemerataan infrastruktur digital nasional, terutama di Daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T). Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) melaporkan bahwa per kuartal IV 2024, penetrasi pengguna internet di wilayah 3T telah mencapai sekitar 82,6 persen dari total penduduk.

Pencapaian ini didukung oleh masifnya pembangunan infrastruktur, termasuk target penyelesaian 5.618 Base Transceiver Station (BTS) 4G di wilayah 3T serta pemanfaatan satelit seperti Satria-1 untuk menyalurkan akses internet di ribuan lokasi layanan publik, termasuk sekolah dan fasilitas kesehatan. Data mencatat, BAKTI telah menyediakan akses internet di 6.062 titik lokasi layanan pendidikan.

Menteri Komunikasi dan Digital, dalam berbagai kesempatan, menegaskan bahwa transformasi digital bertujuan untuk menciptakan peluang yang setara bagi seluruh masyarakat Indonesia, tidak terkecuali mereka yang berada di ujung negeri. Akses internet bukan hanya untuk komunikasi, tetapi juga membuka peluang ekonomi lokal, layanan kesehatan, hingga mendorong literasi digital.

Dengan koneksi internet yang stabil, sekolah-sekolah di pelosok kini dapat menyelenggarakan pembelajaran daring, mengakses sumber belajar digital, dan mengikuti Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) tanpa harus menumpang atau berburu sinyal di tengah hutan. Perjuangan panjang para pahlawan tanpa tanda jasa dan murid di daerah 3T untuk mendapatkan hak pendidikan yang layak pun mulai terbayarkan, memastikan bahwa tidak ada lagi siswa yang harus mempertaruhkan keselamatan mereka demi sebuah koneksi.

Login IG