Kecepatan Internet RI Masih di Bawah Rata-Rata ASEAN, Pemerintah Genjot Akses 100 Mbps.
Menkominfo Budi Arie Setiadi targetkan kecepatan internet Indonesia tembus 100 Mbps dalam 5 tahun, merespons posisi RI yang masih tertinggal di bawah rata-rata ASEAN.
Jakarta, JClarity – Laporan terbaru mengenai performa konektivitas digital menempatkan Indonesia pada posisi yang masih tertinggal signifikan di kawasan Asia Tenggara. Data ini mendorong Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) untuk menggenjot target kecepatan internet nasional hingga mencapai 100 Megabit per detik (Mbps) dalam lima tahun ke depan, sebuah upaya krusial untuk mendongkrak daya saing ekonomi digital.
Merujuk pada laporan Ookla melalui Speedtest Global Index edisi Desember 2024, kecepatan internet mobile rata-rata di Indonesia berada di angka 28,80 Mbps, menempatkannya di peringkat 86 secara global dan berada di posisi bawah di antara negara-negara ASEAN. Kondisi fixed broadband bahkan tidak lebih baik, di mana kecepatan rata-rata mencapai 32,07 Mbps, jauh di bawah capaian negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia yang telah menembus angka di atas 100 Mbps.
Menteri Komunikasi dan Informatika, Budi Arie Setiadi, mengakui adanya ketertinggalan ini, meskipun mencatat peningkatan kecepatan internet yang signifikan dari 2,5 Mbps di tahun 2014 menjadi sekitar 25 Mbps di tahun 2024. Menanggapi tantangan regional tersebut, Menkominfo menyatakan bahwa pemerintahan mendatang menargetkan peningkatan kecepatan internet minimal 100 Mbps dalam periode lima tahun ke depan. Target ini diamanatkan untuk memenuhi kebutuhan konektivitas yang kian mendesak di tengah akselerasi inovasi teknologi digital.
Untuk merealisasikan target ambisius 100 Mbps, Kominfo memfokuskan strategi pada tiga aspek utama: kesehatan ekosistem industri, peningkatan kualitas dan perluasan layanan, serta pertumbuhan ekonomi berbasis digital. Salah satu upaya yang tengah dikaji adalah pemanfaatan spektrum frekuensi baru dan lelang frekuensi, dengan harapan dapat menyediakan layanan internet 100 Mbps yang terjangkau bagi masyarakat, bahkan dengan target harga sekitar Rp100.000 per bulan.
Pemerintah juga berkomitmen untuk menyelesaikan proyek infrastruktur yang sempat terhambat, seperti pembangunan Base Transceiver Station (BTS) 4G, guna mengatasi kesenjangan konektivitas, terutama di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T). Selain itu, Kominfo terus berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan untuk meninjau kebijakan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) agar tercipta iklim investasi yang lebih atraktif bagi operator telekomunikasi dalam menggelar jaringan 5G dan infrastruktur serat optik (FTTH) yang masif.
Akselerasi menuju 100 Mbps bukan hanya sekadar peningkatan angka, melainkan pondasi penting untuk memastikan Indonesia mampu bersaing di kancah global. Pencapaian target ini diharapkan dapat menjadi pendorong utama bagi sektor bisnis, pendidikan, dan layanan publik yang semakin bergantung pada konektivitas digital yang cepat dan merata.