Internet

Kabel Laut Super Cepat RI-AS 'Raksasa Bawah Laut' Resmi Aktif: Klaim Latensi Global Terendah

Kabel laut Bifrost RI-AS sepanjang 20.000 km, kolaborasi Telin, Meta, dan Keppel, resmi aktif. Klaim latensi terendah ini siap mendukung AI dan cloud global.

Jakarta · Thursday, 20 November 2025 21:00 WITA · Dibaca: 23
Kabel Laut Super Cepat RI-AS 'Raksasa Bawah Laut' Resmi Aktif: Klaim Latensi Global Terendah

JAKARTA, JClarity – Sistem Kabel Laut Komunikasi (SKKL) Bifrost, sebuah proyek infrastruktur digital ambisius yang menghubungkan Indonesia dan Amerika Serikat, secara resmi telah mencapai status Ready for Service (RFS) atau siap beroperasi penuh. Proyek yang dijuluki 'Raksasa Bawah Laut' ini diklaim mampu menawarkan konektivitas dengan latensi terendah, mempercepat arus data global secara signifikan dan menempatkan Indonesia sebagai pusat konektivitas data strategis di kawasan.

SKKL Bifrost merupakan kolaborasi strategis antara raksasa teknologi global Meta, anak perusahaan Telkom Indonesia PT Telekomunikasi Indonesia International (Telin), dan operator aset global Keppel. Dengan panjang membentang lebih dari 20.000 kilometer, sistem kabel ini menciptakan rute langsung pertama antara Asia Tenggara dan Pantai Barat AS, secara cerdas menghindari Laut Cina Selatan melalui perairan Jawa dan Sulawesi.

Klaim utama dari pengaktifan sistem ini adalah pencapaian latensi yang tak tertandingi. Meskipun klaim ‘latensi global terendah’ merupakan pernyataan yang kuat, sistem Bifrost dilaporkan mampu mencapai latensi round-trip di bawah 165 milidetik antara Singapura dan AS, sebuah angka yang krusial untuk aplikasi berbasis kecerdasan buatan (AI), interkoneksi cloud, dan layanan digital skala besar.

Titik pendaratan kabel di Indonesia berada di dua lokasi strategis, yaitu Jakarta dan Manado. Sementara di Amerika Serikat, kabel ini berlabuh di Grover Beach, California, dan Winema, Oregon. Selain Manado dan Jakarta, sistem ini juga terhubung ke Singapura, Guam, dan Davao di Filipina. Kehadiran rute baru ini menambah kapasitas lebih dari 260 terabit per detik (Tbps) di sepanjang rute Trans-Pasifik.

CEO Connectivity Keppel, Manjot Singh Mann, dalam pernyataan sebelumnya menyebutkan bahwa proyek ini mendukung permintaan digital yang terus bertumbuh antara Asia Tenggara dan AS, sekaligus memperkuat ketahanan jaringan di kawasan. Bagi Telin, peran dalam konsorsium ini mempertegas posisi Indonesia sebagai gerbang utama lalu lintas data global, mengingat lebih dari 99% trafik internet Indonesia saat ini bergantung pada infrastruktur kabel bawah laut.

SKKL Bifrost diharapkan menjadi alternatif yang andal dan netral secara geopolitik dibandingkan rute-rute Trans-Pasifik yang sudah ada, memastikan akses langsung bagi hyperscaler global dan mendukung percepatan transformasi digital nasional. Dengan resmi aktifnya 'Raksasa Bawah Laut' ini, ekosistem digital Indonesia diprediksi akan mengalami peningkatan kinerja yang signifikan, terutama dalam mendukung beban kerja berbasis AI dan layanan cloud generasi berikutnya.

Login IG