Internet

Kabel Internet Bawah Laut Putus Akibat 'Gunung Api Tersembunyi', Koneksi Indonesia Timur Terancam.

Koneksi internet Indonesia Timur terancam setelah kabel bawah laut utama putus. Diduga akibat aktivitas 'gunung api tersembunyi' atau seamount. Kominfo konfirmasi gangguan.

JAKARTA · Thursday, 13 November 2025 04:00 WITA · Dibaca: 23
Kabel Internet Bawah Laut Putus Akibat 'Gunung Api Tersembunyi', Koneksi Indonesia Timur Terancam.

JAKARTA, JClarity – Konektivitas internet di wilayah Indonesia Timur kembali menghadapi ancaman serius setelah terputusnya salah satu kabel serat optik bawah laut utama. Insiden ini, yang diduga kuat disebabkan oleh aktivitas geologis di dasar laut, khususnya pergerakan dari struktur yang media sebut sebagai 'gunung api tersembunyi' atau seamount aktif, telah menimbulkan gangguan signifikan pada layanan digital bagi jutaan pengguna di wilayah tersebut.

Kabel yang mengalami putus adalah bagian krusial dari jaringan tulang punggung (backbone) yang menghubungkan wilayah timur Indonesia, termasuk Maluku, sebagian Sulawesi, dan Papua, dengan jaringan internet nasional dan global. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) telah mengonfirmasi gangguan tersebut dan menyatakan bahwa tim teknis langsung bergerak cepat untuk mengidentifikasi penyebab pasti dan lokasi titik putus.

Laporan awal dari operator layanan mengindikasikan bahwa kerusakan terjadi di perairan dalam, di area yang secara geologis dikenal sangat labil dan rawan aktivitas tektonik. Istilah 'gunung api tersembunyi' merujuk pada seamount (gunung bawah laut) aktif atau potensi gunung lumpur yang menyebabkan pergeseran tanah dasar laut secara mendadak (turbidity current) atau longsoran bawah laut. Pergerakan ini memiliki kekuatan destruktif yang mampu memutus kabel serat optik yang berada di dasarnya, meskipun telah terlindungi oleh lapisan baja.

Dampak langsung dari putusnya kabel ini adalah penurunan drastis pada kualitas layanan internet, terutama pada kecepatan dan latensi (keterlambatan akses). Meskipun sebagian besar trafik data telah dialihkan melalui rute alternatif atau kabel cadangan yang tersedia, termasuk pemanfaatan kapasitas satelit, kapasitas *backhaul* yang tersedia belum sepenuhnya mampu menutupi kebutuhan total di wilayah tersebut.

Untuk mengatasi krisis konektivitas ini, operator telah mengerahkan kapal perbaikan kabel khusus. Namun, tantangan berupa kedalaman laut yang ekstrem, kondisi cuaca di lokasi, serta kompleksitas medan dasar laut yang dipicu oleh aktivitas geologis, diperkirakan akan memperpanjang waktu perbaikan (Estimated Time of Restoration/ETR). Proses perbaikan dan penyambungan kembali kabel diprediksi memakan waktu antara dua hingga empat minggu ke depan.

Insiden ini menjadi pengingat tajam akan kerentanan infrastruktur digital di Indonesia, negara kepulauan yang terletak di Cincin Api Pasifik (Ring of Fire). Pemerintah dan penyedia layanan didorong untuk segera memperkuat redundansi jaringan dan mempertimbangkan pemetaan risiko geologis yang lebih komprehensif dalam perencanaan pembangunan kabel bawah laut di masa depan guna menjamin ketahanan koneksi internet di seluruh Nusantara.

Login IG