Internet

Internet RI Dilaporkan Paling Lelet, Bos Telko Buka-bukaan Penyebabnya.

Bos Telko buka-bukaan soal penyebab internet RI paling lelet, menunjuk pada keterbatasan spektrum 5G, standar ukur yang tidak relevan, dan biaya investasi tinggi.

JAKARTA · Sunday, 26 October 2025 09:00 WITA · Dibaca: 58
Internet RI Dilaporkan Paling Lelet, Bos Telko Buka-bukaan Penyebabnya.

JAKARTA, JClarity – Laporan global mengenai kecepatan internet kembali menempatkan Indonesia di posisi bawah, bahkan nyaris buncit di kawasan Asia Tenggara. Kondisi ini memicu berbagai pertanyaan publik tentang kesiapan infrastruktur digital nasional. Menanggapi rapor merah tersebut, para petinggi industri telekomunikasi (Telko) akhirnya buka-bukaan mengenai penyebab fundamental di balik lambatnya koneksi internet di Tanah Air.

Data terbaru dari lembaga seperti OpenSignal dan Speedtest Global Index secara konsisten menunjukkan bahwa kecepatan unduh rata-rata (median) internet seluler Indonesia berada jauh di bawah standar global maupun regional. Berdasarkan laporan OpenSignal Kuartal I-2025, kecepatan unduh 4G rata-rata di Indonesia hanya mencapai 25,6 Mbps, menempatkan Indonesia di posisi kelima se-Asia Tenggara, tertinggal dari negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Vietnam. Sementara itu, per Juni 2024, median kecepatan unduh internet mobile Indonesia tercatat 28,35 Mbps, berada di peringkat ke-80 secara global.

Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) menyoroti setidaknya dua faktor utama yang berkontribusi pada rendahnya kecepatan ini. Pertama, adalah masalah **keterbatasan spektrum frekuensi dan optimalisasi 5G**. Chairman of Working Group Spectrum ATSI, Rudi Purwanto, mengungkapkan pada Februari 2025 bahwa latensi di Indonesia masih tinggi karena implementasi 5G yang belum optimal. Ia menekankan bahwa ketersediaan spektrum frekuensi baru—seperti 700 MHz, 1,4 GHz, 2,6 GHz, dan 26 GHz—sangat dibutuhkan untuk mendorong teknologi Carrier Aggregation (CA) yang dapat mengoptimalkan layanan dan menurunkan latensi. Rudi juga membandingkan bahwa sejumlah negara ASEAN sudah mengalokasikan pita frekuensi penting seperti 2,6 GHz dan 26 GHz, yang membuat Indonesia tertinggal.

Kedua, Direktur Eksekutif ATSI, Marwan O. Baasir, memberikan perspektif berbeda dengan mengkritisi **standar pengukuran global yang dianggap kurang relevan** dengan kondisi pasar Indonesia. Marwan menyebutkan bahwa banyak pengguna internet di Indonesia, terutama pengguna pemula, hanya membutuhkan kecepatan antara 5 hingga 15 Mbps. Ia menyarankan perlunya klasifikasi standar broadband nasional yang terpilah (misalnya broadband pemula, mobile, dan fixed). Menurutnya, selama pengukuran global menggabungkan semua kelompok pengguna di bawah standar kecepatan tinggi yang disamaratakan, rata-rata kecepatan Indonesia akan terus dilaporkan rendah.

Selain faktor teknis dan standar, faktor **ekonomi industri dan geografis** juga menjadi kendala. Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Budi Arie Setiadi, sebelumnya menyinggung tantangan bagi operator Telko, di mana biaya operasional (CAPEX) untuk menggelar jaringan 5G jauh berkali-kali lipat lebih besar daripada 4G. Namun, industri dihadapkan pada tarif layanan yang cenderung turun, membuat margin operator tertekan dan menyulitkan investasi besar-besaran untuk peningkatan infrastruktur dan kapasitas 5G. Selain itu, kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan dengan kontur beragam juga mempersulit pemerataan pembangunan infrastruktur, terutama pada segmen 'last mile' (sambungan terakhir ke pengguna), yang turut memengaruhi kualitas koneksi.

Login IG