Internet

Internet RI Dilaporkan Paling Lelet, Bos Telko Buka-bukaan Penyebabnya

Bos asosiasi telekomunikasi (ATSI) buka suara terkait peringkat internet Indonesia yang dilaporkan paling lelet. Latensi tinggi akibat minimnya spektrum dan standar pengukuran global yang tak relevan disebut jadi penyebab utama.

JAKARTA · Tuesday, 21 October 2025 19:00 WITA · Dibaca: 69
Internet RI Dilaporkan Paling Lelet, Bos Telko Buka-bukaan Penyebabnya

JAKARTA, JClarity – Laporan mengenai kecepatan internet di Indonesia yang secara konsisten menempati peringkat bawah, khususnya di kawasan Asia Tenggara, kembali menuai sorotan publik. Menanggapi kritik yang terus berulang tersebut, asosiasi penyelenggara telekomunikasi nasional akhirnya buka suara, menjelaskan bahwa persoalan koneksi lambat di Tanah Air adalah isu kompleks yang melibatkan faktor infrastruktur, kebijakan spektrum, hingga metode pengukuran global.

Berdasarkan data terbaru dari berbagai lembaga riset global, termasuk Ookla Speedtest Global Index, Indonesia seringkali berada di posisi buncit jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand. Laporan awal tahun 2024 menunjukkan kecepatan internet seluler Indonesia, meski telah meningkat, masih berada di peringkat 101 secara global. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar, mengingat Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah pengguna internet terbesar di dunia.

Direktur Eksekutif Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI), Marwan O. Baasir, mengungkapkan bahwa salah satu penyebab peringkat Indonesia rendah adalah standar pengukuran yang dianggap belum sepenuhnya relevan dengan kondisi dan perilaku pengguna di Indonesia. Menurutnya, standar broadband di Indonesia masih merujuk pada regulasi lama (Perpres 96/2014) dengan batas 10 Megabit per detik (Mbps). “Banyak pengguna internet pemula yang kecepatannya masih di level 5 hingga 15 Mbps. Ketika ini disamaratakan dengan standar global yang jauh lebih tinggi, rata-rata kecepatan kita akan terus dilaporkan rendah,” jelas Marwan. Ia menyarankan adanya klasifikasi broadband, seperti broadband pemula, mobile, dan fixed broadband, agar perbandingan menjadi lebih adil dan proporsional.

Dari sisi teknis, persoalan juga terletak pada alokasi spektrum frekuensi yang belum optimal. Ketua Working Group Spectrum ATSI, Rudi Purwanto, menyebut bahwa tingginya latensi internet di Indonesia disebabkan oleh implementasi 5G yang belum berjalan maksimal. Hal senada juga diakui oleh Direktur Utama PT Telkom Indonesia, Ririek Adriansyah, yang mengatakan bahwa jaringan 5G yang dikembangkan oleh Telkomsel masih menggunakan spektrum yang berbagi dengan layanan 4G. “Belum ada spektrum frekuensi khusus untuk 5G di Indonesia. Jika digunakan terlalu banyak untuk 5G, layanan 4G akan terkorbankan,” ungkap Ririek. Para operator berharap lelang spektrum frekuensi baru, seperti 700 MHz dan 26 GHz yang direncanakan oleh pemerintah, dapat segera terealisasi untuk mengoptimalkan layanan 5G dan secara signifikan menurunkan latensi.

Di luar faktor teknis dan pengukuran, tantangan utama yang dihadapi industri telekomunikasi adalah kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Jasa Internet Indonesia (APJII), Muhammad Arif, menekankan bahwa pemerataan infrastruktur digital masih menjadi pekerjaan rumah terbesar. “Apabila dibandingkan antara Jakarta dengan Singapura, mungkin kita tidak terlalu kalah, tetapi kalau berbicara Indonesia secara keseluruhan, dengan wilayah kepulauan yang luas, ya jelas tertinggal,” kata Arif. Menurutnya, fokus utama saat ini harusnya adalah pada pemerataan jaringan, baru kemudian kualitas dapat ditingkatkan secara merata.

Login IG