Internet RI Dilaporkan Paling Lelet, Bos Telko Buka-bukaan Penyebabnya.
Bos Telko buka-bukaan penyebab internet Indonesia paling lelet. Masalah spektrum frekuensi, infrastruktur geografis, dan standar pengukuran global jadi sorotan.
JAKARTA, JClarity – Laporan kecepatan internet global secara konsisten menempatkan Indonesia di urutan bawah, bahkan seringkali menjadi yang paling lambat di kawasan Asia Tenggara. Menanggapi kondisi yang telah menjadi keluhan publik dan ironi nasional ini, para pimpinan industri telekomunikasi (Telko) akhirnya buka suara dan mengemukakan sejumlah faktor fundamental yang menjadi penyebab utama di balik lambatnya koneksi internet Tanah Air.
Berdasarkan data terbaru dari Speedtest Global Index per awal tahun 2025, kecepatan internet di Indonesia, baik untuk kategori mobile maupun fixed broadband, masih jauh tertinggal dibandingkan negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand. Indonesia tercatat berada di posisi kedua terbawah di ASEAN untuk fixed broadband, dan sering menjadi yang paling lambat untuk mobile, hanya unggul tipis di atas beberapa negara tertentu.
Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) mengungkapkan beberapa perspektif berbeda mengenai penyebab keterlambatan ini. Salah satu poin kunci yang disoroti adalah permasalahan spektrum frekuensi dan implementasi teknologi. Chairman of Working Group Spectrum ATSI, Rudi Purwanto, menyebut bahwa latensi yang tinggi—salah satu indikator penting kecepatan—disebabkan oleh belum optimalnya implementasi teknologi 5G di Indonesia. Menurutnya, untuk mengejar ketertinggalan, Indonesia sangat membutuhkan tambahan spektrum baru yang ideal, seperti pita frekuensi 700 MHz, 1.4 GHz, 2.6 GHz, dan 26 GHz. Sejumlah pita frekuensi ini diketahui sudah dialokasikan oleh negara-negara tetangga.
Selain masalah spektrum, tantangan geografis juga diakui sebagai kendala yang signifikan. Indonesia adalah negara kepulauan yang besar dengan kontur geografis beragam, mulai dari pegunungan hingga hutan. Kondisi ini membuat pembangunan infrastruktur telekomunikasi, termasuk kabel serat optik dan menara seluler, menjadi sangat mahal, rumit, dan tidak merata, terutama di daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal). Akibatnya, kecepatan internet di kota-kota besar bisa sangat cepat, tetapi ketika dirata-ratakan secara nasional, angkanya menjadi rendah.
Direktur Eksekutif ATSI, Marwan O. Baasir, menambahkan bahwa salah satu penyebab Indonesia selalu dilaporkan rendah dalam peringkat global adalah karena masalah standar pengukuran yang tidak relevan dengan profil pengguna di Indonesia. Ia mencontohkan banyak pengguna di Indonesia yang baru menggunakan internet dengan kecepatan paket rendah (5-15 Mbps). ATSI menyarankan agar Pemerintah segera memperbarui Peraturan Presiden tentang pita lebar (broadband) dan membuat klasifikasi kecepatan yang disesuaikan dengan kebutuhan lokal (misalnya: broadband pemula, mobile, fixed broadband). Hal ini, menurutnya, akan mencegah Indonesia terus-menerus menduduki peringkat rendah dalam laporan global.
Faktor lain yang turut memengaruhi, menurut Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), adalah isu pada sisi pengguna, termasuk penggunaan perangkat keras dan perangkat lunak yang tertinggal teknologinya atau tidak terawat. Kominfo juga menyoroti kapasitas jaringan dan pembagian bandwidth oleh operator yang memengaruhi kecepatan yang dirasakan pelanggan.