Internet RI Dilaporkan Paling Lelet, Bos Telko Buka-bukaan Penyebabnya.
Bos Telko buka-bukaan penyebab internet Indonesia paling lelet se-ASEAN berdasarkan laporan Speedtest. Keterbatasan spektrum 5G dan infrastruktur tak merata jadi biang kerok.
JAKARTA, JClarity – Laporan terbaru dari indeks kecepatan internet global kembali menempatkan Indonesia di posisi dua terbawah di kawasan Asia Tenggara. Data ini memicu diskusi publik yang masif dan keluhan pengguna mengenai lambatnya konektivitas digital di Tanah Air, membuat para petinggi industri telekomunikasi (telko) buka-bukaan mengenai akar permasalahannya.
Berdasarkan Speedtest Global Index terbaru, kecepatan internet di Indonesia, baik kategori *mobile* maupun *fixed broadband*, masih jauh tertinggal dari negara-negara tetangga seperti Singapura, Thailand, dan Malaysia. Laporan tersebut mencatat kecepatan unduh *fixed broadband* Indonesia berada di kisaran 39.88 Mbps, dan kecepatan *mobile* sekitar 45.01 Mbps, jauh dibandingkan Singapura yang mencapai hampir 400 Mbps untuk koneksi tetap.
Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) melalui Chairman of Working Group Spectrum, Rudi Purwanto, menjelaskan bahwa salah satu penyebab utama rendahnya kecepatan dan tingginya latensi adalah implementasi teknologi 5G yang belum optimal. Menurutnya, tingginya latensi—yang dapat berbeda hingga 10 kali lipat antara 4G dan 5G—berkaitan erat dengan keterbatasan alokasi spektrum frekuensi radio yang ideal dan harmonis. Negara-negara tetangga di ASEAN, seperti Vietnam dan Filipina, disebut telah lebih progresif mengalokasikan pita frekuensi vital seperti 2,6 GHz dan 26 GHz untuk mengoptimalkan layanan generasi kelima tersebut.
Selain masalah spektrum, kendala infrastruktur dan geografis turut menjadi sorotan. Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), Muhammad Arif, mengakui bahwa infrastruktur digital di Indonesia belum merata. Meskipun pembangunan jaringan serat optik (fiber optik) terus digalakkan, penetrasi di daerah terpencil, kepulauan, dan pegunungan masih menjadi tantangan besar, menyebabkan banyak wilayah masih bergantung pada teknologi lama.
Masalah lain yang memperburuk kualitas layanan adalah padatnya lalu lintas data dari jumlah pengguna internet yang sangat besar, mencapai lebih dari 210 juta jiwa, yang tidak diimbangi dengan kapasitas jaringan yang memadai, khususnya saat jam sibuk. Hal ini memaksa operator harus bekerja ekstra keras dengan sumber daya frekuensi yang terbatas.
Sebagai langkah solutif jangka panjang, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) berencana melakukan lelang pita frekuensi baru, termasuk 700 MHz, 1,4 GHz, 2,6 GHz, dan 26 GHz, yang diharapkan dapat memperkuat fondasi 5G di Indonesia dan secara signifikan meningkatkan kecepatan serta menurunkan latensi. Industri telko menekankan bahwa kolaborasi antara regulator, pemerintah, dan operator menjadi kunci untuk memastikan investasi berkelanjutan guna mengejar ketertinggalan konektivitas digital nasional dari kawasan global.