Internet Indonesia Termahal di ASEAN, Kecepatan Kedua Terlambat
Data terbaru menunjukkan internet Indonesia termahal di ASEAN dan memiliki kecepatan fixed broadband terlelet kedua. Biaya per Mbps Rp 6.809, kecepatan 39,88 Mbps.
JAKARTA, JClarity – Sebuah ironi besar menyelimuti lanskap digital Indonesia: meskipun memiliki populasi daring yang masif, data terbaru menunjukkan bahwa harga internet di Tanah Air merupakan yang paling mahal di kawasan Asia Tenggara (ASEAN), sementara kecepatan layanan pita lebarnya (broadband) menduduki peringkat kedua paling lambat.
Temuan yang menyoroti disparitas signifikan antara biaya dan kualitas layanan ini bersumber dari laporan gabungan Cable.co.uk dan We Are Social per Februari 2025 untuk harga, serta data Speedtest Global Index per Agustus 2025 untuk kecepatan. Indonesia tercatat sebagai negara ke-12 termahal di dunia untuk harga internet, bahkan melampaui tarif di negara maju seperti Amerika Serikat dan Inggris.
Dari segi biaya, pengguna internet di Indonesia harus mengeluarkan rata-rata US$0,41 atau sekitar Rp 6.809 (dengan kurs Rp 16.610 per US$) per Mbps per bulan, yang menjadikannya tarif per megabit termahal di ASEAN. Angka ini jauh berbeda dibandingkan negara tetangga seperti Thailand, yang memiliki tarif termurah di ASEAN, dan Singapura. Secara spesifik, tarif internet di Indonesia bisa lebih dari 20 kali lipat lebih mahal dari Thailand dan 13 kali lipat lebih mahal dari Vietnam.
Ironi harga tinggi ini semakin diperparah dengan fakta kualitas koneksi. Menurut data Speedtest Global Index, kecepatan fixed broadband Indonesia hanya berada di posisi ke-116 dunia, dengan rata-rata 39,88 Mbps. Dalam konteks ASEAN, kecepatan ini hanya lebih baik dari Myanmar (26,9 Mbps), sekaligus menempatkan Indonesia pada posisi kedua terlambat. Capaian ini sangat jauh tertinggal dari Singapura, yang memimpin kawasan dan global dengan kecepatan rata-rata 394,30 Mbps, serta Thailand dan Vietnam yang juga masuk dalam 10 besar dunia.
Kesenjangan yang mencolok antara biaya yang mahal dan kualitas yang lambat ini menimbulkan tantangan serius bagi upaya transformasi digital nasional. Pemerintah dan penyedia layanan internet (ISP) dituntut untuk segera mengkaji ulang struktur biaya, terutama terkait investasi dan efisiensi operasional. Peningkatan pemerataan infrastruktur serat optik ke luar Pulau Jawa dan pengkajian ulang biaya spektrum dinilai menjadi kunci untuk menawarkan layanan broadband yang lebih terjangkau dan kompetitif, sejalan dengan standar kualitas dan harga di negara-negara ASEAN lainnya.