Internet Indonesia Jadi yang Termahal di ASEAN, tapi Paling Lambat Kedua.
Biaya internet di Indonesia tercatat paling mahal di ASEAN (US$0,41 per Mbps), namun kecepatannya menjadi yang terlambat kedua, menurut data Cable.co.uk dan Speedtest Global Index 2025.
Jakarta, JClarity – Ironi layanan internet di Indonesia kembali menjadi sorotan publik. Berdasarkan laporan terbaru dari lembaga riset global, biaya layanan internet di Tanah Air tercatat sebagai yang termahal di kawasan Asia Tenggara (ASEAN), namun ironisnya, kecepatan koneksinya justru menempati urutan kedua paling lambat di kawasan tersebut.
Temuan ini, yang didasarkan pada data komparatif dari Cable.co.uk dan We Are Social per Februari 2025 serta Speedtest Global Index per Agustus 2025, menyoroti disparitas signifikan antara harga yang dibayar konsumen dengan kualitas layanan yang diterima. Untuk setiap Megabit per detik (Mbps), pengguna internet di Indonesia harus merogoh kocek rata-rata US$0,41 atau setara sekitar Rp6.809 (dengan kurs Rp16.610 per US$).
Angka tarif per Mbps tersebut menempatkan Indonesia pada posisi ke-12 termahal secara global dan yang paling mahal di ASEAN, bahkan melampaui tarif di negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Inggris. Sebagai perbandingan, negara-negara tetangga menawarkan tarif yang jauh lebih terjangkau. Thailand, misalnya, hanya menetapkan tarif sekitar US$0,02 per Mbps, disusul Singapura US$0,03, dan Malaysia US$0,09. Ini berarti harga internet per Mbps di Indonesia bisa dua hingga 20 kali lipat lebih mahal dibandingkan di beberapa negara ASEAN.
Dari sisi performa, laporan Speedtest Global Index Agustus 2025 menunjukkan bahwa kecepatan internet Indonesia masih tertinggal jauh. Untuk layanan *fixed broadband* (internet kabel), kecepatan unduh rata-rata di Indonesia hanya tercatat 39,88 Mbps, menjadikannya negara terlambat kedua di ASEAN, hanya unggul dari Myanmar. Posisi ini jauh di bawah Singapura yang kokoh di puncak dengan kecepatan unduh mencapai 393,15 Mbps, atau Thailand dengan 262,42 Mbps.
Sementara itu, pada kategori *mobile broadband* (internet seluler), kecepatan unduh rata-rata Indonesia berada di kisaran 45,01 Mbps, yang menempatkannya di tiga terbawah kawasan ASEAN. Kondisi ini tentu menjadi tantangan serius bagi upaya transformasi digital nasional, mengingat penetrasi internet terus meningkat dan menjadi kebutuhan fundamental masyarakat di berbagai sektor.
Terkait kondisi ini, Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) telah menyatakan tengah berupaya melakukan akselerasi infrastruktur digital. Pihak Kominfo disebut sedang menyiapkan sejumlah langkah untuk memperluas jaringan serat optik dan satelit multifungsi, serta memiliki ambisi untuk mencapai kecepatan *fixed broadband* 100 Mbps. Meskipun demikian, publik dan pengamat industri menuntut agar pemerintah bersama penyedia layanan (ISP) segera meninjau ulang struktur biaya dan meningkatkan efisiensi operasional. Hal ini krusial agar masyarakat dapat menikmati layanan *broadband* yang lebih cepat dan terjangkau, selaras dengan perkembangan harga dan kualitas layanan di negara-negara ASEAN lainnya.