Internet

Harta Karun Baru Bernilai Rp 216 Triliun Jadi Rebutan Dunia: Kabel Laut Jadi Kunci AI

Investasi kabel laut mencapai Rp 216 T karena AI membutuhkan transfer data masif antar-benua, memicu persaingan sengit global antara raksasa teknologi dan negara.

Jakarta · Tuesday, 11 November 2025 06:00 WITA · Dibaca: 48
Harta Karun Baru Bernilai Rp 216 Triliun Jadi Rebutan Dunia: Kabel Laut Jadi Kunci AI

Jakarta, JClarity – Revolusi Kecerdasan Buatan (AI) tidak hanya memicu perlombaan pengembangan model bahasa dan cip semikonduktor, tetapi juga menciptakan 'harta karun' baru dalam bentuk infrastruktur digital yang bernilai fantastis. Investasi global di sektor kabel serat optik bawah laut, yang kini menjadi urat nadi utama transfer data AI, diproyeksikan melonjak, dengan estimasi nilai pasar atau pengeluaran investasi baru yang mencapai angka sekitar Rp 216 triliun dalam dekade ini, memicu persaingan sengit di antara raksasa teknologi dan kekuatan dunia.

Angka fantastis ini mencerminkan lonjakan permintaan kapasitas *bandwidth* yang belum pernah terjadi sebelumnya, didorong oleh kebutuhan pelatihan model AI generatif yang membutuhkan transfer petabyte data secara konstan antar-benua. Kabel laut, yang membawa lebih dari 99% lalu lintas data global, telah bertransformasi dari sekadar utilitas menjadi aset strategis utama dalam ekosistem AI. Para pemain *hyperscaler* utama seperti Google, Microsoft, Meta, dan Amazon kini tidak lagi bergantung pada penyedia telekomunikasi tradisional, melainkan berinvestasi langsung pada pembangunan kabel pribadi (proprietary cables) berkapasitas ultra-tinggi untuk memastikan latensi rendah dan ketersediaan data yang cepat.

Kabel-kabel generasi terbaru ini dirancang khusus untuk memenuhi tuntutan AI, dengan kemampuan mengirimkan data dengan kecepatan cahaya antara pusat data (*data center*) raksasa yang terletak di berbagai benua. Misalnya, sebuah permintaan sederhana ke model AI yang canggih memerlukan serangkaian komputasi yang mungkin tersebar di server di Amerika Utara dan Eropa, membutuhkan infrastruktur yang sangat andal dan cepat. Tanpa jaringan kabel laut berkapasitas masif ini, ambisi AI global—mulai dari mobil tanpa pengemudi hingga penemuan obat—akan terhambat secara fundamental.

Situasi ini memicu 'Rebutan Dunia' yang melibatkan dimensi bisnis dan geopolitik. Dari sisi bisnis, kompetisi untuk mendapatkan rute kabel tercepat dan terpendek semakin intensif. Sementara itu, dari sisi geopolitik, negara-negara semakin menyadari pentingnya mengamankan dan mengontrol titik pendaratan kabel (Cable Landing Station). Lokasi geografis seperti Indonesia, yang berada di persimpangan jalur kabel vital antara Asia, Australia, dan Amerika, menjadi sangat strategis. Kontrol atas infrastruktur ini menjadi isu kedaulatan data dan keamanan nasional, di mana kekhawatiran tentang spionase dan gangguan oleh aktor negara tertentu meningkat seiring investasi yang terus mengalir.

Analis industri memandang bahwa investasi Rp 216 triliun ini hanyalah permulaan. Selama perlombaan menuju dominasi AI terus berlanjut, persaingan untuk membangun, memiliki, dan mengamankan konektivitas bawah laut akan terus meningkat. Kabel laut bukan lagi sekadar pipa komunikasi, melainkan infrastruktur perang dingin digital baru, yang menentukan siapa yang akan memimpin di era Kecerdasan Buatan global.

Login IG