Internet

**Guru Besar UGM: AI Memang Cerdas, Tapi Tak Punya Kejujuran dan Harapan Seperti Manusia**

Guru Besar UGM Prof. Dr. Rr. Siti Murtiningsih tegaskan AI cerdas mengolah data namun tak miliki kejujuran, harapan, dan empati seperti manusia. Ini ilusi algoritmik.

JAKARTA · Monday, 20 October 2025 03:00 WITA · Dibaca: 59
**Guru Besar UGM: AI Memang Cerdas, Tapi Tak Punya Kejujuran dan Harapan Seperti Manusia**

JAKARTA, JClarity – Perkembangan pesat di bidang Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) telah memicu perdebatan mengenai peran dan keterbatasannya. Menanggapi fenomena ini, Guru Besar Filsafat Pendidikan Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Rr. Siti Murtiningsih, S.S., M.Hum., menegaskan bahwa meskipun AI unggul dalam mengolah data dan simbol, mesin tersebut tidak akan pernah bisa memiliki dimensi esensial kemanusiaan, seperti kejujuran, harapan, dan empati.

Pernyataan filosofis tersebut disampaikan oleh Prof. Murti, sapaan akrabnya, dalam acara penganugerahan 'Anugerah Liputan6' yang diselenggarakan di SCTV Tower Jakarta pada Kamis (16/10/2025). Dalam pandangannya, kecerdasan buatan hanyalah sebuah alat untuk mengolah simbol, bukan entitas individu yang mampu memegang konsep nilai layaknya manusia. Bisakah ia merasakan nilai kejujuran? Bisakah ia merasakan keadilan? tanya Prof. Murti, yang menekankan bahwa AI hanya mampu meniru, tetapi tidak pernah sungguh-sungguh bisa memiliki nilai-nilai tersebut.

Diskusi tersebut kemudian mengarah pada kesimpulan kritis bahwa pemahaman AI hanyalah ilusi algoritmik. Konsep ini merujuk pada kemampuan AI untuk menghasilkan output yang sangat meyakinkan seolah-olah memiliki pemahaman sejati terhadap nilai, padahal ia hanya memproses pola dan data masa lalu. Menurut Prof. Murti, AI tidak memiliki dimensi spasial kemanusiaan, lingkup yang mencakup rasa empati, harapan, dan nilai kolektif.

Menyoroti elemen ‘harapan’ sebagai contoh kunci, Prof. Murti menjelaskan bahwa mesin tidak mungkin punya harapan. Harapan, dalam konteks pedagogi kritis, adalah tentang sesuatu yang tidak ada atau yang-belum-ada, sebuah elemen penting dalam menumbuhkan kesadaran kritis dan mewujudkan masa depan yang lebih baik. Harapan adalah motor penggerak pendidikan dan peradaban yang hanya dimiliki oleh manusia.

Oleh karena itu, Prof. Murti memberikan peringatan keras. Ketergantungan penuh manusia pada AI, dan kehilangan dimensi esensial ini, dapat memicu stagnasi peradaban dan berpotensi membawa bencana. Ia menekankan bahwa peran manusia sebagai pendidik dan pemegang nilai tetap tak tergantikan, menjadikan AI sebagai kolaborator, bukan substitusi, untuk mencegah kepunahan makna sejati kemanusiaan.

Login IG