GSMA: Integrasi 5G dan AI di Industri Tiongkok Jadi Tolok Ukur Digital Global
GSMA menyatakan integrasi 5G dan AI di industri Tiongkok, dari pabrik pintar hingga pelabuhan otomatis, menjadi tolok ukur digital global. Simak laporan lengkapnya.
JAKARTA, JClarity – Integrasi agresif teknologi jaringan seluler generasi kelima (5G) dan Kecerdasan Buatan (AI) di sektor industri vertikal Tiongkok telah diakui sebagai 'tolok ukur global' untuk transformasi digital. Pengakuan ini disampaikan oleh John Hoffman, CEO GSMA Ltd., menjelang pembukaan Konferensi Internet Dunia (WIC) Wuzhen Summit 2025.
Hoffman menyebutkan bahwa konvergensi 5G dan AI menandai era baru bagi industri seluler global, yang secara kolektif mentransformasi ekonomi dan masyarakat. Tiongkok disebut terus memimpin dalam inovasi jaringan, di mana koneksi 5G menyumbang lebih dari 55 persen dari semua koneksi seluler di negara tersebut.
Menurut data dari GSMA, saat ini, satu dari empat koneksi global beroperasi pada 5G, sementara 4,7 miliar orang menggunakan internet seluler, yang menjadi fondasi kuat bagi inovasi digital. Peluang besar terletak pada pemanfaatan jaringan ini untuk mendorong inovasi berbasis AI, mencakup pemeliharaan prediktif, operasi otomatis, hingga pencegahan penipuan dan pengembangan kota pintar.
Pencapaian Tiongkok dalam menerapkan 5G dan AI di berbagai sektor dipuji secara khusus. Contoh-contoh yang menonjol meliputi sistem pemeliharaan prediktif (predictive maintenance) yang dikembangkan China Mobile di pabrik-pabrik, operasi derek otomatis (automated crane operations) oleh China Telecom di Pelabuhan Tianjin, serta sistem pendeteksi penipuan berbasis AI dari China Unicom yang dilaporkan mencapai akurasi 95 persen.
“Kasus-kasus ini menunjukkan kekuatan kolaborasi lintas industri,” kata Hoffman. Ia menambahkan bahwa model-model ini memperlihatkan bagaimana 5G dan AI dapat mendigitalisasi industri tradisional, meningkatkan produktivitas, dan menciptakan model yang dapat diskalakan dan direplikasi secara global, mulai dari pabrik pintar (smart factories) hingga transportasi cerdas dan logistik.
Laporan 'The Mobile Economy China 2025' dari GSMA juga memproyeksikan bahwa teknologi seluler dan transformasi digital akan menyumbang $2 triliun, atau 8,3% dari Produk Domestik Bruto (PDB) Tiongkok, pada tahun 2030. Sektor manufaktur diperkirakan akan menjadi pendorong utama, menyumbang 40% dari dampak ekonomi sebesar $2 triliun tersebut.
Meskipun kemajuan yang pesat, GSMA juga menyoroti adanya tantangan 'kesenjangan penggunaan' (usage gap), di mana miliaran orang masih terputus dari internet seluler meskipun telah tercakup jaringan. Untuk mencegah 'kesenjangan AI' (AI divide) yang baru, Hoffman menekankan pentingnya menggabungkan pengembangan AI multibahasa dengan konektivitas universal.