Internet

Generasi Z Dominasi Penggunaan AI, Pakar UGM Sampaikan Tips Bijak Menggunakan Teknologi Akal Imitasi

Pakar UGM, Prof. Ridi Ferdiana, memberikan tips bijak penggunaan AI di tengah dominasi Gen Z sebagai pengguna utama, menyoroti pentingnya verifikasi dan etika.

Yogyakarta · Thursday, 06 November 2025 04:00 WITA · Dibaca: 43
Generasi Z Dominasi Penggunaan AI, Pakar UGM Sampaikan Tips Bijak Menggunakan Teknologi Akal Imitasi

YOGYAKARTA, JClarity – Pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) kian masif, didorong oleh generasi yang tumbuh sebagai 'digital native', yaitu Generasi Z (Gen Z). Data terkini menunjukkan Gen Z mendominasi penggunaan teknologi "akal imitasi" ini untuk berbagai keperluan mulai dari tugas akademik hingga kreativitas. Menyikapi fenomena peningkatan adopsi AI ini, pakar dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menyerukan pentingnya literasi digital dan etika agar teknologi tersebut dapat dimanfaatkan secara bijak dan produktif.

Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2025 mencatat Gen Z sebagai pengguna AI paling aktif di Indonesia, mencapai 43,7 persen, jauh melampaui kelompok Milenial di angka 22,3 persen. Mayoritas Gen Z mengakses AI untuk tujuan edukasi dan pembelajaran, menunjukkan bahwa AI telah menjadi bagian integral dari rutinitas digital keseharian mereka.

Menanggapi tren ini, Guru Besar UGM dan Pemerhati Rekayasa Perangkat Lunak, Prof. Ridi Ferdiana, menekankan bahwa Generative AI adalah salah satu bentuk disrupsi terbesar yang mengubah cara berpikir dan hidup generasi muda. Prof. Ridi memperkirakan adopsi AI akan terus meningkat; di lingkungan UGM sendiri, ia mencatat sekitar 45.000 dari total 60.000 mahasiswa telah menggunakan teknologi ini dalam berbagai aktivitas.

Meskipun AI memberikan kemudahan, Prof. Ridi menilai bahwa isu literasi AI masih menjadi tantangan di Indonesia. Oleh karena itu, langkah pertama dalam menggunakan AI secara bijak adalah menerapkan 'prinsip verifikasi' dan pemikiran kritis. Pengguna harus mengingat bahwa AI dapat menghasilkan data bias atau 'halusinasi', sehingga semua informasi yang didapatkan wajib dikroscek dengan sumber tepercaya dan sahih sebelum digunakan atau disebarluaskan.

Lebih lanjut, ditekankan pentingnya etika dan batas-batas penggunaan. Pakar UGM tersebut mengingatkan Gen Z untuk menghindari plagiarisme dan selalu menempatkan AI sebagai alat bantu atau 'co-pilot', bukan sebagai 'autopilot' yang menggantikan sepenuhnya fungsi pemikiran kritis manusia. Pengguna juga diimbau untuk waspada terhadap risiko privasi data dan keamanan saat memasukkan informasi sensitif ke dalam platform AI, mengingat AI hanya mampu mengolah simbol dan tidak memiliki dimensi esensial kemanusiaan seperti hati nurani dan empati.

Edukasi AI yang komprehensif, mencakup etika, keamanan data, dan kemampuan analisis mendalam, dinilai menjadi kunci utama. Tujuannya adalah menciptakan generasi yang cakap menggunakan AI untuk peningkatan kreativitas dan efisiensi, namun tetap memiliki integritas akademik dan profesional, serta tidak sepenuhnya bergantung pada teknologi.

Login IG