Cina Lampaui Microsoft, Resmikan Pusat Data Bawah Laut Pertama di Dunia.
Cina meluncurkan pusat data bawah laut komersial pertama di dunia di Hainan dan Shanghai, melampaui Microsoft. Inisiatif ini menawarkan efisiensi energi 90% dan latensi rendah.
JAKARTA, JClarity – Republik Rakyat Cina (RRC) secara resmi telah meluncurkan dan mengoperasikan pusat data bawah laut komersial pertamanya, sebuah tonggak sejarah yang menempatkan negara tersebut di garis depan infrastruktur digital global, melampaui upaya eksperimental para raksasa teknologi Barat seperti Microsoft. Peresmian fasilitas ini menandai dimulainya era baru penyimpanan dan pemrosesan data dengan efisiensi energi yang jauh lebih tinggi.
Inisiatif ambisius ini dipelopori oleh perusahaan teknologi kelautan Cina, Beijing Highlander Digital Technology Co Ltd (Highlander). Meskipun Microsoft telah memimpin dengan Project Natick, sebuah eksperimen yang diuji di lepas pantai Skotlandia dan dihentikan pada Juli 2024, Cina berhasil mengkomersialkan teknologi ini. Pusat data bawah laut komersial pertama ini, yang salah satu modulnya baru-baru ini dioperasikan di perairan dekat Shanghai dan Lingshui, Hainan, dirancang untuk melayani klien-klien besar seperti China Telecom.
Keunggulan utama teknologi ini terletak pada efisiensi energi. Pusat data tradisional mengonsumsi energi dalam jumlah besar, terutama untuk sistem pendingin. Namun, dengan menempatkan modul server di kedalaman laut (sekitar 35 meter), fasilitas ini memanfaatkan air laut dingin sebagai pendingin alami. Highlander mengklaim metode ini mampu menghemat hingga 90 persen konsumsi energi yang biasanya digunakan untuk pendinginan, serta mengurangi penggunaan air tawar secara signifikan.
Secara spesifikasi, setiap unit pusat data bawah laut dirancang untuk dapat beroperasi selama 25 tahun dan memiliki Power Usage Effectiveness (PUE) antara 1,12 hingga 1,15, jauh lebih baik daripada rata-rata pusat data darat yang mencapai PUE 1,48. Dengan rencana untuk menempatkan hingga 100 unit, kapasitas komputasi kolektifnya diperkirakan setara dengan daya pemrosesan enam juta komputer pribadi (PC) konvensional. Infrastruktur ini sangat penting untuk mendukung pengembangan kecerdasan buatan (AI), komputasi awan, dan layanan digital latensi rendah di wilayah pesisir.
Langkah Cina ini tidak hanya didorong oleh kebutuhan efisiensi energi tetapi juga oleh strategi ‘Ekonomi Biru’ dan inisiatif ‘Data Timur, Komputasi Barat’ nasional. Dengan memindahkan pusat data ke laut, Cina dapat menghemat lahan daratan yang berharga sambil mengurangi jejak karbon, sekaligus memastikan ketersediaan komputasi berkecepatan tinggi di pusat-pusat populasi pesisir timur yang padat. Keberhasilan komersialisasi ini menegaskan pergeseran kepemimpinan inovasi dalam infrastruktur digital global.