China Pelan-pelan 'Kuasai' Angkasa, Airbus Kepincut Internet Satelit Beijing.
Tiongkok melangkah maju dalam persaingan luar angkasa. Airbus menjalin kemitraan strategis dengan Shanghai Yuanxin Satellite untuk menggunakan jaringan internet satelit Qianfan (Spacesail) di pesawatnya.
JAKARTA, JClarity – Program luar angkasa Tiongkok terus menunjukkan ambisi global, terutama dalam sektor internet satelit orbit rendah Bumi (LEO). Langkah strategis terbaru terjadi ketika perusahaan dirgantara Eropa, Airbus, menjalin kemitraan penting untuk mengintegrasikan layanan konstelasi satelit Tiongkok, 'Qianfan' atau juga dikenal sebagai 'Spacesail', ke dalam armada pesawatnya.
Perjanjian kerja sama pasar ini ditandatangani antara Airbus dan pengembang konstelasi, Shanghai Yuanxin Satellite Technology (atau Shanghai Spacesail Technologies Co., Ltd.), di Shanghai pada tanggal 4 Desember 2025. Kemitraan ini bertujuan untuk menyediakan layanan satelit pita lebar (broadband) berkecepatan tinggi dengan latensi rendah melalui sistem konektivitas di pesawat (In-Flight Connectivity/IFC) yang dikembangkan Airbus.
Integrasi jaringan Qianfan ke dalam sistem antena konektivitas Airbus, 'High Bandwidth Connectivity Plus', menandai pengakuan signifikan terhadap kemampuan teknologi luar angkasa Tiongkok. Langkah ini secara langsung menantang dominasi layanan internet satelit Barat yang saat ini dipegang oleh Starlink milik SpaceX, serta pesaing lain seperti Project Kuiper Amazon. Pihak Airbus menyatakan kolaborasi ini akan memberikan opsi konektivitas tambahan bagi pelanggan maskapai, meningkatkan pengalaman penumpang, dan mengoptimalkan operasional pesawat secara global.
Konstelasi Qianfan sendiri merupakan proyek ambisius Tiongkok untuk menciptakan jaringan internet satelit LEO berskala masif. Konstruksi jaringan komersialnya secara resmi diluncurkan pada Agustus 2024. Proyek ini direncanakan mencapai skala besar, dengan target jangka panjang untuk mengerahkan hingga 15.000 satelit. Hingga saat ini, Tiongkok telah meluncurkan sejumlah satelit uji coba dan operasional untuk konstelasi yang beroperasi di orbit rendah, serupa dengan Starlink, menawarkan solusi layanan internet yang cepat dan andal.
Para analis melihat kemitraan ini sebagai langkah yang menguntungkan Airbus, terutama untuk menarik maskapai-maskapai Tiongkok yang cenderung memilih solusi konektivitas yang dikembangkan secara lokal. Sementara bagi Beijing, kesepakatan ini memperkuat posisi 'Qianfan' sebagai pemain global yang sah, mengubah lanskap geopolitik luar angkasa di mana infrastruktur satelit kini dianggap sebagai aset strategis nasional dan diplomatik. Perkembangan ini menegaskan bahwa Tiongkok tidak hanya memacu program eksplorasi luar angkasa dalam (seperti misi Bulan dan rencana jangka panjang hingga 2050), tetapi juga secara cepat membangun infrastruktur komersial yang dapat bersaing secara internasional.