China Pelan-pelan "Kuasai" Angkasa, Airbus Kepincut Internet Satelit Beijing.
Airbus jalin kerja sama dengan pengembang konstelasi satelit Qianfan China, Spacesail, untuk internet LEO di pesawat, tantang dominasi Starlink.
JAKARTA, JClarity – Ambisi China untuk memimpin perlombaan luar angkasa global kian nyata setelah raksasa kedirgantaraan Eropa, Airbus, secara resmi menjalin kerja sama strategis dengan penyedia layanan internet satelit orbit rendah (LEO) milik Beijing. Langkah ini menandai pengakuan signifikan dari industri internasional terhadap kemajuan pesat program luar angkasa komersial China, sekaligus menempatkan China sebagai pesaing langsung konstelasi Starlink milik SpaceX.
Perjanjian kerja sama pasar tersebut ditandatangani antara Airbus dan Shanghai Spacesail Technologies Co., Ltd., pengembang dari konstelasi satelit 'Spacesail' yang juga dikenal sebagai Konstelasi Qianfan (atau G60). Melalui kesepakatan yang diumumkan di Shanghai pada Kamis (4/12) waktu setempat, Airbus akan mengintegrasikan layanan internet satelit dari Spacesail ke dalam sistem konektivitas berkecepatan tinggi di pesawatnya, khususnya sistem antena “High Bandwidth Connectivity Plus” (HBCplus).
Integrasi ini bertujuan untuk menyediakan layanan pita lebar (broadband) berkecepatan tinggi dan berlatensi rendah di dalam penerbangan (in-flight Wi-Fi), yang akan meningkatkan pengalaman penumpang sekaligus mengoptimalkan operasional pesawat secara global. Kerja sama ini diharapkan sangat menarik bagi maskapai penerbangan China yang mencari solusi konektivitas yang dikembangkan secara lokal.
Konstelasi Qianfan adalah proyek ambisius milik China yang dirancang untuk menantang dominasi Starlink. Program ini bertujuan menempatkan lebih dari 15.000 satelit LEO di orbit sebelum tahun 2030, menyediakan jaringan internet di tingkat regional dan global. Peluncuran perdana satelit LEO pertamanya telah sukses dilakukan pada Agustus 2024 sebagai bagian dari Konstelasi G60.
Di mata regulator dan analis Barat, terutama Amerika Serikat (AS), program ambisius China ini telah menimbulkan kekhawatiran yang mendalam. Para pejabat AS, seperti Kepala Biro Antariksa Komisi Komunikasi Federal (FCC) Jay Schwarz, secara terbuka menyebut bahwa Partai Komunis China (PKC) sedang "secara agresif mengejar dominasi antariksa" dan berambisi menawarkan "internet yang dikontrol secara otoriter" kepada negara-negara di dunia.
Namun, bagi Airbus, langkah kerja sama ini adalah manuver strategis bisnis untuk memastikan tersedianya opsi konektivitas yang beragam dan andal bagi pelanggannya, khususnya di pasar Asia yang sangat besar. Dengan melibatkan operator satelit China, Airbus tidak hanya memperluas jangkauan layanannya tetapi juga memposisikan diri untuk memenuhi permintaan maskapai yang semakin bergantung pada teknologi komunikasi pita lebar orbit rendah untuk operasi yang cerdas dan personal.