Internet

Biometrik Cerdas untuk Pelanggan Telekomunikasi di Era Digital: Perkuat Keamanan Identitas dan KYC di Indonesia

Operator telekomunikasi di Indonesia masif mengadopsi biometrik cerdas, seperti face recognition dan liveness detection, untuk memperkuat KYC dan keamanan pelanggan.

JAKARTA · Sunday, 12 October 2025 11:00 WITA · Dibaca: 28
Biometrik Cerdas untuk Pelanggan Telekomunikasi di Era Digital: Perkuat Keamanan Identitas dan KYC di Indonesia

JAKARTA, JClarity – Transformasi digital di sektor telekomunikasi Indonesia memasuki babak baru dengan adopsi teknologi biometrik cerdas. Langkah ini diambil oleh operator seluler sebagai respons konkret terhadap peningkatan kasus kejahatan digital, penipuan, dan penyalahgunaan identitas yang kian marak. Penerapan sistem biometrik, khususnya pengenalan wajah (face recognition), dipandang sebagai solusi vital untuk memperkuat standar Know Your Customer (KYC) dan menjamin keamanan ekosistem digital bagi seluruh pelanggan.

Inisiatif terbaru datang dari Telkomsel yang, berkolaborasi dengan Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia (Komdigi), melanjutkan uji coba registrasi pelanggan berbasis data kependudukan biometrik. Uji coba ini, yang dilaksanakan pada Oktober 2025, berfokus pada skenario layanan seperti registrasi pelanggan baru dan penggantian kartu SIM. Tujuannya adalah untuk mendukung penguatan keamanan identitas digital dan perlindungan data pelanggan. Selain Telkomsel, operator lain seperti XL Axiata juga telah mengimplementasikan registrasi kartu SIM dengan teknologi serupa, menunjukkan tren positif dalam peningkatan keamanan digital di industri ini.

Teknologi yang digunakan dalam uji coba ini mencakup pengenalan wajah yang ditingkatkan, termasuk penerapan liveness detection aktif dan pasif sesuai standar internasional ISO 30107. Fitur liveness detection berfungsi krusial untuk memastikan subjek yang terverifikasi adalah individu yang benar-benar hidup, bukan representasi palsu seperti foto, video, atau manipulasi digital (deepfake). Pemanfaatan passive liveness detection bahkan dianggap ideal untuk pasar Indonesia, mengingat masih tingginya penetrasi perangkat seluler dengan spesifikasi rendah, sehingga proses verifikasi tetap inklusif, cepat, dan nyaman.

Direktur Jenderal Ekosistem Digital Komdigi, Edwin H. Abdullah, mengapresiasi langkah operator dalam uji coba biometrik ini, menegaskan bahwa tujuan utamanya adalah sebagai bentuk perlindungan bagi pengguna ponsel di Indonesia. Penerapan biometrik diharapkan menjadi pola baru dalam bisnis seluler, di mana operator tidak hanya fokus pada keuntungan, tetapi juga keselamatan, keamanan, dan kenyamanan pelanggan. Komdigi (sebelumnya Kominfo) sendiri tengah menyiapkan regulasi baru yang akan mewajibkan integrasi data NIK dan Nomor KK dengan teknologi pengenalan wajah untuk registrasi kartu SIM, sebagai upaya strategis untuk mencegah penipuan dan kejahatan digital.

Meskipun memberikan manfaat besar dalam akurasi data dan efisiensi operasional, implementasi biometrik juga membawa tantangan, terutama terkait isu privasi data dan kesiapan infrastruktur. Oleh karena itu, diperlukan implementasi yang bertahap dan terukur, serta perlindungan privasi yang ketat. Kolaborasi antara pemerintah, operator, dan penyedia teknologi menjadi kunci untuk membangun ekosistem digital yang aman, inklusif, dan berkelanjutan.

Login IG