Awasi Anak! Selvi Ananda Minta Orang Tua Ketatkan Pengawasan Saat Anak Akses Internet.
Selvi Ananda, Istri Wapres, meminta orang tua ketatkan pengawasan dan pendampingan anak saat akses internet. Internet dinilai pedang bermata dua. Maksimal 160 karakter.
DENPASAR, JClarity – Istri Wakil Presiden Republik Indonesia, Selvi Ananda, menegaskan kembali pentingnya peran orang tua dalam mengawasi secara ketat aktivitas anak saat mengakses internet. Seruan ini disampaikan di tengah masifnya arus informasi digital, yang dinilai Selvi sebagai pedang bermata dua bagi perkembangan generasi muda.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Selvi Ananda, yang juga Pembina Solidaritas Perempuan untuk Indonesia Kabinet Merah Putih (Seruni KMP), saat melakukan kunjungan dan sosialisasi literasi digital di SDN 5 Pedungan, Kota Denpasar, Bali, pada Jumat (7/11/2025). Selvi secara khusus meminta para orang tua dan guru untuk selalu mendampingi dan membatasi penggunaan gawai pada anak, mengingat internet pada dasarnya tidak dirancang untuk pengguna usia anak-anak.
“Untuk para orang tua yang hadir di sini, mohon untuk anaknya diawasi saat menggunakan internet,” ujar Selvi di hadapan para siswa, guru, dan wali murid. Dia menekankan bahwa meskipun internet memberikan manfaat besar sebagai sumber ilmu pengetahuan dan pembelajaran, di sisi lain terdapat potensi risiko besar jika tidak digunakan secara bijak.
Lebih lanjut, Selvi mengingatkan bahwa ruang digital dipenuhi dengan berbagai informasi, termasuk konten-konten negatif dan berita bohong atau hoaks yang dapat berdampak buruk pada psikologis dan moral anak. Oleh karena itu, kecerdasan digital menjadi kunci. Anak-anak harus diajarkan untuk mengenal batas, berani menolak konten negatif, dan selalu berdiskusi dengan orang tua atau guru jika menemukan hal yang tidak pantas di dunia maya.
Dalam rangkaian kunjungannya, Selvi juga mendorong para siswa untuk memanfaatkan teknologi demi hal-hal yang bermanfaat, seperti belajar dan mencari pengetahuan, serta menjauhi perilaku negatif seperti memberikan 'komentar jahat' (cyberbullying) di media sosial. Kampanye literasi digital ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan keluarga dan menyiapkan sumber daya manusia unggul yang adaptif terhadap perkembangan teknologi menuju Indonesia Emas 2045.