Internet

Akses Sulit dan Listrik Padam Jadi 'Musuh Berat' Pemulihan Koneksi Internet Pasca Bencana

Pemulihan internet pasca-bencana terhambat. Akses sulit ke lokasi BTS dan pemadaman listrik berkelanjutan jadi 'musuh berat' operator telekomunikasi.

JAKARTA · Wednesday, 03 December 2025 09:00 WITA · Dibaca: 23
Akses Sulit dan Listrik Padam Jadi 'Musuh Berat' Pemulihan Koneksi Internet Pasca Bencana

JAKARTA, JClarity – Pasca terjadinya bencana alam skala besar, seperti gempa bumi atau banjir bandang yang melanda wilayah kepulauan atau terpencil, upaya pemulihan konektivitas internet menjadi prioritas kritis bagi pemerintah dan operator telekomunikasi. Namun, proses esensial ini secara konsisten dihadapkan pada dua 'musuh berat' yang memperlambat laju normalisasi komunikasi: sulitnya akses menuju lokasi Base Transceiver Station (BTS) yang rusak dan masalah ketiadaan suplai listrik yang berkelanjutan.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mengakui bahwa kerusakan infrastruktur jalan dan jembatan akibat bencana adalah kendala utama yang dihadapi tim teknis di lapangan. Wilayah Indonesia yang memiliki karakteristik geografis yang menantang seringkali membuat banyak BTS hanya dapat dijangkau setelah membersihkan material longsor, atau bahkan harus ditempuh dengan berjalan kaki atau menggunakan kendaraan khusus. Kondisi ini secara signifikan memperpanjang waktu respons pemulihan dari hitungan jam menjadi hari.

Selain masalah akses, kendala pasokan daya listrik tak kalah pelik. Jaringan listrik utama dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang terputus atau rusak parah di wilayah terdampak memaksa seluruh infrastruktur telekomunikasi bergantung penuh pada generator set (genset) sebagai sumber daya darurat. Ketergantungan ini memunculkan tantangan logistik baru yang berisiko tinggi: pengiriman bahan bakar minyak (BBM) ke lokasi-lokasi BTS secara berkala.

Pengiriman BBM kerap terhambat oleh jalur distribusi yang lumpuh dan faktor keamanan di lokasi bencana. Jika BBM terlambat tiba, BTS yang telah berhasil diperbaiki atau bahkan yang masih berfungsi secara otomatis akan mati. Kondisi ini berpotensi memicu 'silent zone' yang dapat mengganggu koordinasi tim SAR dan penyaluran informasi penting bagi masyarakat terdampak.

Menghadapi tantangan ini, operator telekomunikasi nasional telah mengaktifkan strategi mitigasi darurat. Solusi jangka pendek yang diterapkan mencakup penggunaan Mobile BTS (Combat) di pusat-pusat pengungsian dan pemanfaatan teknologi VSAT (Very Small Aperture Terminal) untuk menyediakan koneksi satelit sementara. Kolaborasi intensif dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan PLN juga terus ditingkatkan untuk memastikan jalur akses dan suplai energi bagi infrastruktur komunikasi mendapat prioritas tertinggi dalam proses pemulihan bencana.

Meskipun demikian, Kominfo menegaskan bahwa normalisasi penuh konektivitas di seluruh wilayah terdampak masih membutuhkan waktu dan sangat bergantung pada kecepatan pemulihan infrastruktur dasar, terutama listrik dan akses jalan. Oleh karena itu, edukasi masyarakat tentang penggunaan komunikasi darurat yang efisien dan persiapan sumber daya mandiri di lokasi BTS terpencil menjadi fokus berkelanjutan untuk meminimalkan dampak 'musuh berat' pemulihan pasca-bencana ini.

Login IG