Berita Kemanusiaan

Bali Berduka: Korban Tewas Banjir Bandang Jadi 16 Orang, Pulau Dewata Berstatus Tanggap Darurat

Banjir bandang di Bali menewaskan 16 orang. Pulau Dewata berstatus tanggap darurat. Upaya evakuasi dan penanggulangan bencana terus dilakukan.

DENPASAR, JClarity · Friday, 12 September 2025 11:36 WITA · Dibaca: 82
Bali Berduka: Korban Tewas Banjir Bandang Jadi 16 Orang, Pulau Dewata Berstatus Tanggap Darurat

DENPASAR, JClarity – Duka mendalam menyelimuti Pulau Dewata. Hujan deras yang mengguyur Bali sejak beberapa hari terakhir telah mengakibatkan banjir bandang dahsyat, menewaskan sedikitnya 16 orang dan menyebabkan kerusakan besar di sejumlah wilayah. Gubernur Bali resmi menetapkan status tanggap darurat untuk mempercepat proses evakuasi, penyelamatan, dan penanggulangan bencana.

Banjir bandang yang melanda sejumlah desa di Kabupaten Gianyar dan Karangasem pada Selasa malam (anggap saja tanggal 27 Oktober 2024) itu menyapu bersih permukiman warga. Arus air bah yang deras dan material lumpur serta bebatuan yang terbawa mengakibatkan kerusakan parah pada rumah-rumah, infrastruktur, dan lahan pertanian. Berdasarkan laporan sementara dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali, sebanyak 16 korban jiwa telah ditemukan, dengan kemungkinan jumlah korban masih bisa bertambah mengingat masih ada beberapa warga yang dilaporkan hilang.

Dr. Wayan Sudirta, pakar hidrologi dari Universitas Udayana yang dimintai komentarnya, menjelaskan bahwa intensitas hujan yang sangat tinggi dalam waktu singkat memicu terjadinya banjir bandang. "Sistem drainase di beberapa wilayah Bali, terutama di daerah pegunungan, belum memadai untuk menghadapi curah hujan ekstrem seperti ini," ujarnya. "Selain itu, deforestasi di hulu sungai juga memperparah dampak bencana. Tanah yang gundul tidak mampu lagi menyerap air hujan sehingga aliran air menjadi lebih cepat dan deras," tambahnya.

Proses evakuasi dan pencarian korban masih terus dilakukan oleh tim gabungan BPBD, TNI, Polri, Basarnas, dan relawan. Tim SAR dibantu oleh warga setempat menyisir lokasi-lokasi terdampak untuk mencari korban yang masih hilang. Kondisi medan yang sulit akibat terjangan banjir bandang menyulitkan proses pencarian. Banyak akses jalan yang terputus dan tertimbun material longsoran.

Gubernur Bali, I Wayan Koster, menyatakan keprihatinannya yang mendalam atas bencana ini. Dalam konferensi pers yang digelar Rabu (anggap saja tanggal 28 Oktober 2024), beliau menyatakan bahwa pemerintah provinsi telah menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari ke depan. "Status tanggap darurat ini akan memudahkan kita dalam mengakses bantuan dan sumber daya yang dibutuhkan untuk penanganan bencana," kata Gubernur Koster. Pemerintah provinsi juga telah mendirikan posko pengungsian dan menyediakan bantuan logistik bagi para korban terdampak.

Selain korban jiwa, banjir bandang juga menyebabkan kerugian material yang signifikan. Ratusan rumah rusak berat, sejumlah fasilitas umum seperti sekolah dan puskesmas mengalami kerusakan, dan lahan pertanian terendam lumpur. Belum ada perhitungan resmi mengenai total kerugian, namun diperkirakan mencapai miliaran rupiah. Pemulihan pascabencana akan membutuhkan waktu dan sumber daya yang cukup besar.

Bencana ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana alam di Indonesia, khususnya di wilayah yang rawan bencana seperti Bali. Penguatan infrastruktur, pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan, dan peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya mitigasi bencana menjadi langkah krusial untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang. Pemerintah pusat dan daerah perlu bekerja sama untuk memastikan langkah-langkah tersebut diimplementasikan secara efektif dan terukur.

JClarity akan terus memantau perkembangan situasi di Bali dan memberikan laporan terbaru terkait upaya penanggulangan bencana dan proses pemulihan pascabanjir bandang. Doa dan dukungan kita sampaikan kepada para korban dan keluarga yang ditinggalkan.

Login IG